--> Kerajaan Bulungan yang mulai terlupakan
Home Info


Berdirinya Kerajaan Bulungan tidak dapat dipisahkan dengan mitos ataupun legenda yang hidup secara turun-temurun dalam masyarakat. Legenda bersifat lisan dan merupakan cerita rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang benar-benar terjadi. Karena sifatnya yang tidak tertulis dan sering kali mengalami distorsi maka sering kali pula dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya. Yang demkian itulah disebut dengan folk history (sejarah kolektif).
A. Masa Pemerintahan Yang Dipim-pin Oleh Kepala Adat
Kuwanyi, adalah nama seorang pemimpin suku bangsa Dayak Hupan (Dayak Kayan) karena tinggal di hilir Sungai Kayan, mula-mula mendiami sebuah perkampungan kecil yang penghuninya hanya terdiri atas kurang lebih 80 jiwa di tepi Sungai Payang, cabang Sungai Pujungan. Karena kehidupan penduduk sehari-hari kurang baik, maka mereka pindah ke hilir sebuah sungai besar yang bernama Sungai Kayan.
Suatu hari Kuwanyi pergi berburu ke hutan, tetapi tidak seekorpun binatang yang diperolehnya, kecuali seruas bambu besar yang disebut bambu betung dan sebutir telur yang terletak di atas tunggul kayu Jemlay. Bambu dan telur itu dibawanya pulang ke rumah. Dari bambu itu keluar seorang anak laki-laki dan ketika telur itu dipecah ke luar pula seorang anak perempuan. Kedua anak ini dianggap sebagai kurnia para Dewa. Kuanyi dan istrinya memelihara anak itu baik-baik sampai dewasa. Ketika keduanya dewasa, maka masing-masing diberi nama Jauwiru untuk yang laki-laki dan yang perempuan bernama Lemlai Suri. Keduanya dikawinkan oleh Kuwanyi.
Kisah Jauwiru dan Lemlasi Suri kini diabadikan dengan didirikannya sebuah monumen “telor Pecah”. Monumen tersebut terletak di antara jalan sengkawit dan jelarai, yang mengingatkan kita tentang cikal bakal berdirinya kesultanan Bulungan.
Bulungan, berasal dari perkataan “Bulu Tengon” (Bahasa Bulungan), yang artinya bambu betulan. Karena adanya perubahan dialek bahasa Melayu maka berubah menjadi “Bulungan”. Dari sebuah bambu itulah terlahir seorang calon pemimpin yang diberi nama Jauwiru. Dan dalam perjalanan sejarah keturunan, lahirlah kesultanan Bulungan.
Setelah Kuwanyi wafat maka Jauwiru menggantikan kedudukan sebagai ketua suku bangsa Dayak (Hupan). Kemudian Jauwiru mempunyai seorang putera bernama Paran Anyi.
Paran Anyi tidak mempunyai seorang putera, tetapi mempunyai seorang puteri yang bernama Lahai Bara yang kemudian kawin dengan seorang laki-laki bernama Wan Paren, yang menggantikan kedudukannya. Dari perkawinan Lahai Bara dan Wan Paren lahir seorang putera bernama Si Barau dan seorang puteri bernama Simun Luwan.
Pada masa akhir hidupnya, Lahai Bara mengamanatkan kepada anak-anaknya supaya “Lungun” yaitu peti matinya diletakkan di sebelah hilir sungai Kipah. Lahai Bara mewariskan tiga macam benda pusaka, yaitu ani-ani (kerkapan). Kedabang, sejenis tutup kepala dan sebuah dayung (bersairuk). Tiga jenis barang warisan ini menimbulkan perselisihan antara Si Barau dan saudanya, Simun Luwan. Akhirnya Simun Luwan berhasil mengambil dayung dan pergi membawa serta peti mati Lahai Bara. Karena kesaktian yang dimiliki oleh Simun Luwan, hanya dengan menggoreskan ujung dayung pada sebuah tanjung dari sungai Payang, maka tanjung itu terputus dan hanyut ke hilir sampai ke tepi Sungai Kayan, yang sekarang terletak di kampung Long Pelban. Di Hulu kampung Long Pelban inilah peti mati Lahai Bara dikuburkan. Menurut kepercayaan seluruh keturunan Lahai Bara, terutama keturunan raja-raja Bulungan, dahulu tidak ada seorangpun yang berani melintasi kuburan Lahai Bara ini, karena takut kutukan Si Barau ketika bertengkar dengan Simun Luwan. Bahwa siapa saja dari keturunan Lahai Bara bila melewati peti matinya niscaya tidak akan selamat. Tanjung hanyut itu sampai sekarang oleh suku-suku bangsa Dayak Kayan dinamakan Busang Mayun, artinya Pulau Hanyut.
Kepergian Simun Luwan disebabkan oleh perselisihan dengan saudaranya sendiri, saat itu merupakan permulaan perpindahan suku-suku bangsa Kayan, meninggalkan tempat asal nenek moyang mereka di sungai Payang menuju sungai Kayan, dan menetap tidak jauh dari Kota Tanjung Selor ibu kota daerah Bulungan sekarang. Suku bangsa Kayan hingga sekarang masih terdapat di beberapa perkampungan di sepanjang sungai Kayan, di hulu Tanjung Selor, di Kampung Long Mara, Antutan dan Pimping.
Simun Luwan mempunyai suami bernama Sadang, dan dari perkawinan mereka lahir seorang anak perempuan bernama Asung Luwan. Asung Luwan kawin dengan seorang bangsawan dari Brunei, yaitu Datuk Mencang.
Sejak pemerintahan Datuk Mencang inilah timbulnuya kerajaan Bulungan. Datuk Mencang adalah salah seorang putera Raja Brunei di Kalimantan Utara yang telah mempunyai bentuk pemerintahan teratur. Datuk Mencang berlabuh di muara sungai Kayan Karena kehabisan persediaan air minum. Dengan sebuah perahu kecil Datuk Mencang dan Datuk Tantalani menyusuri sungai Kayan mencari air tawar, tetapi suku bangsa Kayan sudah siap menghadang kedatangan mereka. Mujur pihak Datuk Mencang dan Datuk Tantalani cukup bijaksana dapat mengatasi keadaan dan berhasil mengadakan perdamaian dengan penduduk asli sungai Kayan. Dari hasil perdamaian ini akhirnya Datuk Mencang kawin dengan Asung Luwan, salah seorang puteri keturunan Jauwiru.
Menurut legenda, lamaran Datuk Mencang atas Asung Luwan ditolak, kecuali Pangeran dari Brunei itu sanggup mempersembahkan mas kawin berupa kepala Sumbang Lawing, pembunuh Sadang, kakaknya. Melalui perjuangan, ketangkasan dan kecerdasan, akhirnya Datuk Mencang dapat mengalahkan Sumbang Lawing. Perang tanding dilakukan dengan uji ketangkasan membelah jeruk yang bergerak dengan senjata. Datuk Mencang lebih unggul dan meme-nangkan uji ketangkasan tersebut.
B. Masa Pemerintahan Yang Dipim-pin Oleh Kesatria/Wira.
Setelah Asung Luwan menikah dengan datuk Mencang (1555-1594), berakhirlah masa pemerintahan di daerah Bulungan yang dipimpin oleh Kepala Adat/Suku, karena sejak Datuk Mencang memimpin daerah Bulungan, pemimpinnya disebut sebagai Kesatria/Wira.
Datuk Mencang digantikan oleh menantunya yang bernama Singa Laut, yang memerintah tahun 1594-1618.
Untuk pemerintahan selanjutnya adalah Wira Kelana, putra Singa Laut yang memerintah tahun 1618-1640.
Wira Keranda menggantikan ayahnya, Wira Kelana sebagai raja dan memerintah pada tahun 1640-1695.
Pemerintahan selanjutnya adalah Wira Digendung, putra Wira Kelana yang memerintah pada tahun 1695-1731.
Wira Digendung digantikan oleh putranya bernama Wira Amir alias Sultan Amiril Mukminin yang memerintah pada tahun 1731-1777.
C. Masa Pemerintahan Yang Dipim-pin Oleh Seorang Sultan.
Sultan Amiril Mukminin kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Alimuddin dan memerintah pada tahun 1777-1817.
Sultan Muhammad Kaharuddin menggantikan ayahnya dan memerintah pada tahun 1817-1861. kemudian memerintah lagi pada tahun 1866-1873. Sebenarnya ia telah menyerahkan pemerintahan pada anak pertamanya, Sultan Djalaluddin I. Namun oleh karena sering sakit-sakitan maka kekuasaan pemerintahan diambil alih kembali.
Pemegang kekuasaan selanjut-nya adalah Sultan Kalifatul Alam Muhammad Adil (1873-1874). Ia dikenal sebagai ulama yang memiliki banyak pengikut, dan senantiasa menentang kebijakan kerjasama dengan Belanda. Sultan Kalifatul Alam Muhammad Adil mengabaikan seluruh perjanjian yang pernah dilakukan dengan Belanda. Akhirnya ia meninggal dalam suatu perjamuan makan yang diselengga-rakan oleh Belanda.
Sultan Kaharuddin (1874-1889). Pada masa pemerintahannya telah terjalin kerjasama dengan Belanda yang ditandai dengan adanya perjanjian kerjasama (Konterverklaring de tweede II). Pokok perjanjiannya, Belanda dapat menentukan kebijakan Sultan Bulungan termasuk urusan pajak, dan Sultan Kaharuddin terjamin keamanannya. Hal tersebut adalah merupakan langkah awal dari strategi Belanda untuk melakukan penekanan-penekanan yang merugikan rakyat.
Sultan Azimuddin (1889-1899). Meskipun ia bukan putra kandung Sultan Kaharuddin II, pengukuhannya sebagai sultan didukung oleh Gubernur Jenderal Belanda dan mendapat pengesahan melalui Surat Keputusan tertanggal 4 Desember 1889.
Pengian Kesuma (1899-1901) biasa dipanggil dengan sebutan Putri Sibut. Ia adalah istri Sultan Azimuddin. Ia memegang kekuasaan selama 2 tahun.
Sultan Kasimudin (1901-1925). Ia meninggal karena tertembak.
Datu Mansyur (1925-1930). Sesungguhnya ia hanyalah pemangku jabatan sultan. Seharusnya pengganti Sultan Kasimudin adalah Sultan Ahmad Sulaiman yang waktu itu sedang mengikuti pendidikan Holands Inlandsche School (HIS) di Samarinda dan Medan.
Sultan Ahmad Sulaiman (1930-1931), menduduki jabatan setelah pulang dari mengikuti pendidikan Inlandsche School (HIS) di Samarinda dan Medan, dan menjalankan pemerintahan selama sembilan bulan.
Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin II (1931-1958). Adalah Sultan Bulungan yang terakhir. Ia membangun istana baru yang disebut dengan Istana III. Meninggal pada tanggal 21 Desember 1958.

Baca juga :

2 comments

  1. mantaaap/....walau mataku agak sakit lihatnya.. tapi ngomong2 emotionnya gak bisa di pakai ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha...derita loe.... masa si kku coba ya :i:

      Delete

to Top