Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Monday, 13 January 2014

Siapa Bilang Jadi Penulis Itu Sulit???

Siapa Bilang Jadi Penulis Itu Sulit???
Menulis adalah kegiatan menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Biasa kita lakukan pada carik kertas dengan menggunakan alat-alat seperti ballpoint, pena, atau pensil. Namun seiring berkembangnya zaman, manusia kini mampu menciptakan media-media lain untuk melakukan kegiatan tulis menulis, seperti handphone, laptop, dan computer.

Tuesday, 8 October 2013

Negeri Cermin, Tidak Bercermin Tidak Mencerminkan

Ini adalah negeri cermin, setiap sudut negeri terpampang cermin-cermin melekat erat. Di dinding, sisi kamar, kamar mandi, toilet, westafel, hingga kendaraan-kendaraan memiliki cermin. Cermin, cermin cermin. Dimana-mana ada cermin.

Tuesday, 13 August 2013

Padamu Negeri Ku Berjanji, Berbakti, Mengabdi

Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti 
Padamu negeri kami mengabdi 
Bagimu negeri jiwa raga kami - [Soul Of The Nation, Padamu Negeri By Kusbini]







Allah. Satu bait saja Kusbini mampu membuatku spechless tak mampu ucapkan kata-kata. Sederhana, namun mampu menyampaikan banyak makna bagiku. "Berjanji, Berbakti, Mengabdi", arrgghh, "Berjanji, Berbakti, Mengabdi Dengan Jiwa Raga".

Monday, 17 June 2013

Subsidi BBM, Mensejahterakan Atau Menyengsarakan???

  Bismillah. Walhamdulillah.

  Beberapa bulan ini baik di jejaring sosial seperti twitter dan media berita online getol-getolnya membahas tentang polemik kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Antara pro dan kontra semua mengatasnamakan rakyat, kesejahteraan rakyat, subsidi BBM menjadi perdebatan petinggi negeri ini. Entahlah, mana yang tulus dan mana yang bulus.

  Pada opini saya kali ini saya sependapat dengan akun twitter @TrioMacan2000 tentang menaikkan harga dan mencabut subsidi BBM -baca kultwit Triomacan200 "Fakta Dibalik Harus Naiknya Harga BBM" disini!-. Banyak fakta menarik yang terlupakan atau memang sengaja dilupakan atau ditutup-tutupi dalam masalah BBM ini menurut Triomacan2000. Dan berikut sedikit catatan lain kenapa BBM harus naik menurut pandangan saya.

  Baiklah, pertama kali masalah peruntukan subsidi. Subsidi diperuntukkan untuk mengurangi beban kebutuhan pokok kalangan bawah atau miskin. Tapi faktanya penikmat subsidi adalah mereka kalangan menengah ke atas. Kendaraan bermotor mereka banyak yang meminum BBM subsidi, yang dikoar-koarkan atas nama rakyat. Tapi sayang rakyat yang mana? Yang kaya? Yang memiliki berbagai merek kendaraan?

  Yang kedua, negeri ini masih sangat terbelakang. Banyak daerah yang belum mempunyai fasilitas umum yang harusnya wajib dimiliki. Contohnya jalan, banyak daerah yang hanya bisa ditempuh dengan transportasi udara karena belum memiliki akses perjalanan darat apalagi air. Pembangunan negeri ini hanya berpusat pada Pulau Jawa, dan tidak sama sekali melirik pembangunan di Kalimantan apalagi Papua.

  Karena tak memiliki transportasi lain selain pesawat, tak heran di sebagian pelosok negeri ini harus membayar mahal bahkan lebih sepuluh kali lipat harga bahan pokok.Tak terkecuali harga BBM. Mereka sudah terbiasa dengan harga selangit, makanya tidak akan ribut dengan kenaikan BBM. Yang ribut bisa kita tebak. Adalah mereka yang berada di ibukota dan kota-kota besar lainnya negeri ini.

  Silahkan tanya saja pada mereka jika tak percaya. Saya yakin, mereka lebih setuju dana triliunan rupiah subsidi dari APBN dialihkan untuk membangun jalan, sekolahan, dan fasilitas umum lainnya di daerah mereka. Subsidi BBM, mensejahterakan apa menyengsarakan? Mensejahterakan pastinya jawab mereka yang di kota. Tapi apa kata mereka yang di pelosok negeri ini? Menyengsarakan!!!

  Bukalah mata anda, lihatlah sekitar. Berpikirlah tentang orang lain, jangan hanya memahami diri sendiri.

Friday, 14 June 2013

Pingin Pintar Apa Harus Menghapal???

  Bismillah wal hamdulillah.

  Dua pekan Kang Omen lagi sibuk-sibuknya menghadapi Final Exam untuk bisa naik tingkat kedua. Mendapat nilai di bawah minimum dan di-DO dari kampus adalah dua hal yang menjadi phobia saya terbaru. Takut mengecewakan mereka yang membiayai saya kuliah disini, guru-guru, orang tua, dan teman-teman yang selalu menyupport  saya selama ini.

Monday, 13 May 2013

Belajar Karna Ujian, Bukan Ujian Karna Belajar

Sedikit pengin nyurahin unek-unek yang udah lama membuncah di otak dan pikiran saya-sampe tumpah bro-heuheu. Tentang belajar, tentang kuliah, tentang pelajaran, tentang tugas, tentang ujian,ah semuanya lah, semua tentang PENDIDIKAN. Sumpah berat menjalaninya, walaupun udah bisa berlagak enjoy tapi secara pribadi ngga bisa ngebohongi diri sendiri bahwa itu sangat Menyusahkan, ini dialek kampung saya yang serumpun dengan melayu kalimantan.

 Ok, sesuai pembahasan kali ini tentang pandangan pribadi saya "Belajar Karna Ujian, Bukan Ujian Karna Belajar", mari baca dan pahami siapa tahu anda bisa tahu sedikit bagaimana saya. Sungguh ini adalah pengalaman pribadi saya yang BELAJAR HANYA DI HARI-HARI UJIAN, jadi tidak mungkin ada maksud menceramahi sahabat pembaca yang budiman. Ambillah sisi positif tulisan ini, yang negatifnya sila dampratin ke saya saja,heuheu.

Sangat dilematik saat saya harus melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang terkenal angker dengan tuntutan nilai dan absensi kehadiran 90%. Nilai harus mencapai tingkat minimum agar tidak tinggal kelas dan berbuntut DO dipulangkan ke Indonesia jika sampai dua kali tinggal kelas. Membayar 125 US dollar untuk satu pelajaran yang tidak mencapai nilai tuntas, dan bayaran lainnya seperti uang makan dan asrama. Belum lagi dengan kehadiran di kelas yang harus selalu sehat agar tak absen.Uh, menjadi siksaan batin jika ingat masalah-masalah itu.

 Lima menit membaca buku itu sangat lama rasanya jika dibandingkan di depan layar monitor surfing internet, atau main PES seharian. Tapi itu adalah kenyataannya, saya bukanlah Kutu Buku walaupun sangat suka membaca dan menulis. Kok bisa gitu? Ya, karna diktat atau buku-buku materi pelajaran di kelas bukanlah sumber bacaan yang menarik bagi saya. Terlebih jika banyak uraian yang bertele-tele, bisa dipastikan lima menit membaca kantuk pun melanda.

Membaca pelajaran yang telah diajarkan saja malas, terlebih yang belum diajarkan di kelas. Jadi, hari-hari biasa adalah hari yang mengasyikkan untuk mencari bacaan lain di internet atau buku-buku lainnya, tentang apa saja, tentang hukum, politik, sastra, dan IT. Atau yang lebih mengasyikkan lagi menggenggam  stick ps bermain PES 2013.

 Saat hari-hari ujian tiba, baik itu ujian bulanan atau ujian semester, adalah hari yang sangat menyebalkan karna harus membuka buku semalaman hingga esok siang menjelang ujian dilaksanakan. Nah, di hari-hari seperti inilah diktat yang terlihat mulus menjadi kumal karena akhirnya terbaca juga. Sibuk bertanya makna ini-itu kepada teman, atau terkadang sampai pinjam catatan teman. Sistem kebut semalam pun dilaksanakan. *Jangan ditiru adegan ini, hanya untuk yang sudah terbiasa , heuheu

  Pengalaman di atas itu adalah contoh Belajar Karna Ujian, Bukan Ujian Karna Belajar, yang saya alami sendiri. Padahal, seluruh petuah bijak baik itu dari guru, dosen, dan semua pengajar adalah "BELAJARLAH SUNGGUH-SUNGGUH TANPA ADA ALASANNYA, BUKAN KARNA ALASANNYA ADA". Belajarlah bukan karna menghadapi ujian, tapi jalanilah ujian karna kalian belajar.

Sekian, semoga bermanfaat buat teman-teman pembaca. Ada baiknya anda meninggalkan komentar untuk sumber motivasi bahkan insprasi bagi saya. Terimakasih.

Friday, 3 May 2013

Hilang Dialek Siap-Siap Kehilangan Identitas

 Adalah hal yang lumrah terjadi saat dialek seseorang berubah karna lingkungan baru.Terlebih jika sampai lama ia berdomisili disana, bisa dipastikan hilanglah identitas diri seseorang tadi. Mungkin ini adalah hal sepele bagi anda, namun tidak bagi saya. Dialek menurut saya adalah anugrah yang tertanam di lisan setiap insan sebagai pembeda antara kelompok dengan kelompok lainnya, suku dengan suku lainnya, bangsa dan bangsa lainnya. Menurut wikipedia  dialek (bahasa Yunani: διάλεκτος, dialektos), adalah varian dari sebuah bahasa menurut pemakai. Sebuah dialek dibedakan berdasarkan kosa kata, tata bahasa, dan pengucapan (fonologi, termasuk prosodi).

 Saya pernah berbincang-bincang dengan teman asal Jakarta. Ia menanyakan kenapa gaya bicara dan dialek saya berbeda dengan teman-teman Kalimantan lainnya yang identik dengan akhiran -lah -kah, sambil menirukan dialek Suku Banjar. Saya jawab, karna saya bukan orang banjar dan tidak hidup di lingkungan banjar. Memang, untuk daerah Kalimantan Timur bagian selatan sangatlah identik dengan dialek banjar tapi kaltim bagian utara -atau yang sekarang sudah menjadi provinsi baru Kalimantan Utara- memiliki dialek yang berbeda.

 Dialek saya adalah dialek asli Bulungan, kalau berbicara terdengar cepat dan memilik susunan kata (SPOK) yang unik. Dialek bulungan memiliki kemiripan dengan dialek negeri jiran Malaysia, demikian pula dengan daerah-daerah lain di kalimantan bagian utara.

 Alhasil bagi rekan pembaca yang budiman tetaplah jaga dialek bahasa anda, agar tidak hilang identitas diri anda.

Baca juga semua postingan tentang Bulungan berikut:

Hikayat Daerah Istimewa Bulungan 

Runtuhnya Kerajaan Bulungan 

Kerajaan Bulungan yang mulai terlupakan 

Sekilas Tentang Pondok Pesantren Al-Khairaat Bulungan 

Syekh Maulana Al-Magribi Salimbatu

 

 

 

 


[Khusus Pria] Yuk Nikah Murah Dan Poligami Disini !!!

"Maaf..Maaf  Baco kalau cuma tujuh juta
Tidak cukup biar mau sewa kursi sama tenda
BBM baru naik harga daging juga naik
Otomatis daging Becce juga pasti naik

Bapak minta minimal pannaik 70 juta

Bapak minta erang-erangnya 70 macam
Pestanya ya, minimal di Hall Room MPH
Artisnya ya, minimal konser 3 DIVA
Oh..Bapak tega-tegata Bapak
Takkala bunuhma Pak
Takkala hancurma Pak


Kenapa juga harus ada erang-erang
Kenapa juga pannaik harus banyak uang
Jadi kesannya Bapak kayak jualan orang
Kenapa tidak, Becce pajang saja di warung"

Demikian penggalan lirik lagu etnik bugis "Baco Becce 2" yang menggambarkan realitas adat pernikahan dewasa ini. Wanita lebih bisa dikatakan barang yang memiliki harga jual yang mengikuti harga BBM. Kenaikan BBM bisa menambah daftar bujang-bujang lapuk di negeri ini. Ok lah, berikut saya ngga mau berkomentar lebih lanjut tentang biaya nikah yang mahalnya selangit, tapi saya akan bagi info tentang daerah atau tempat yang memiliki biaya nikah relatif murah, sangat strategis untuk berpoligami sepengetahuan saya. heuheu

Setelah googling ke seluruh pelosok negeri dunia maya, nikah tidak ada yang bisa gratis seratus persen. Mungkin saja ada, tapi satu dari seratus ribu pernikahan yang terjadi di dunia ini. Jika anda memang ngebet menikah juga pasangan pun tak mau menunggu lama untuk bisa melangsungkan pernikahan. Silahkan langsung saja ke KUA (Kantor Urusan Agama) terdekat, karna biaya pernikahan dan administrasi hanya Rp.30.000,-. Jika memang tidak memiliki uang lebih, tak usahlah mengadakan acara Selametan dan lain-lain, toh itu hanya pelengkap kebahagiaan saja.



Menurut kabar yang saya dengar dan saya cocokkan dengan data-data yang terkumpulkan dari Eyang Google, pernikahan adat Minang sangat menarik buat anda yang cuma memiliki modal tampang dan dengkul saja. Suku Minangkabau memiliki tradisi pihak wanita yang melakukan pelamaran dan seserahan kepada pengantin pria. Nikmat bukan main, saya yakin disana tidak memiliki daftar panjang Bujang Lapuk. 

Nah, yang terakhir berikut ini adalah yang paling menarik dan -insya allah- cocok untuk berpoligami namun sayang bukan di Indonesia. Menurut kabar yang saya dengar dari dosen saya orang arab, Pakistan adalah negara paling murah biaya nikahnya. Cukup tiga ribu reyal yaman atau seratus lima puluh ribu rupiah sudah dapat menikah. Anda tidak perlu susah-susah untuk biaya pesta, dan tempat tinggal anda berumah tangga, karna semuanya ditanggung oleh pihak wanita.Dengan seratus lima puluh ribu sudah dapat satu istri, maka untuk mendapatkan empat pendamping hidup silahkan saja sediakan enam ratus ribu rupiah.

Sekian, mari kita pangkas daftar panjang Bujang Lapuk  di dunia ini.

Monday, 29 April 2013

Kenapa Kalian Harus Masuk Ahgaff?

ahgaff, ahgaff university, kampus syariah wal qonun, universitas al ahgaff
Kampus Fak Syariah dan Hukum Univ Al Ahgaff Yaman


Tulisan ini sengaja saya tulis, menanggapi pernyataan beberapa teman yang selama ini membanding-bandingkan, dan beranggapan bahwa belajar dengan iming-iming IJAZAH itu kurang AFDHOL. Padahal dari visi misi dansistem belajar Ahgaff dan Al Khairaat itu adalah SAMA. Dan berikut saya akan menjelaskan kesamaan itu menurut sudut pandang saya pribadi.

Apa itu Ahgaff dan siapa penderinya?
Tak kenal maka tak sayang, begitu penggalan pepatah lama. Ahgaff adalah universitas islam yang didirikan oleh Habib Abdullah bin Mahfud Alhaddad pada tahun 1994. beliau lahir di Mukalla, ibukota provinsi Hadhramaut Yaman. Dibesarkan di keluarga yang cinta akan ilmu pengetahuan, pendidikan beliau ditempa langsung oleh ayah beliau, hingga saat remaja mesantren di Ribath Tarim.

Dengan keluwesan ilmunya, beliau dipercaya menjadi mufti Hadhramaut. Rumah beliau selalu terbuka untuk mereka yang haus akan ilmu agama atau mereka yang membutuhkan fatwa atas suatu masalah. Kecintaan beliau akan ilmu pengetahuan dan dengan memanfaatkan kedudukannya sebagai seorang mufti, beliau menggagas dan mendirikan beberapa universitas di Hadhramaut. Seperti Universitas Hadhramaut, Ahgaff, Universitas Aden, dan masih ada beberapa lagi yang saya lupa namanya.

Untuk diketahui,hadhramaut dan Yaman pada umumnya, lebih dari 50% penduduknya tidak berpendidikan dan buta baca tulis -data ini saya dengar langsung dari dosen, sekaligus orang indonesia senior yg ada di Yaman, dan wartawan web berita www.indo.hadhramaut.info -. Di awal pendirian Ahgaff, yang fakultas Syariah dan Hukumnya didirikan di Tarim, Habib Abdullah Amhfudzz bannyak mendapat tentangan dari para habaib dan masyayikh Tarim. Dan beliau tak gentar untuk meneruskan pendirian Universitas Al Ahgaff. Untuk tenaga pengajar, beliau mendatangkan doktor-doktor dari Azhar mesir, Sudan, Aljazair, seperti Dr, Ahmad Ali Thoha Royyan. Yang menarik saat itu adalah saat Habib Abdullah Mahfudz meminta para habaib dan masyayikh tarim untuk ikut mengajar. Sempat ada penolakan, namun oleh Habib Abdullah Mahfudz diancam akan merekrut dosen-dosen dan Arab Saudi jika memang tidak ada yang berkenan. Dan alhamdulillah, pada akhirnya mereka pun menyutujui untuk mengajar di Ahgaff.
Kesamaan Visi-Misi dan Sistem Belajar Al Khairaat dan Ahgaff
Dewasa ini pendidikan agama yang klasik seperti membaca kitab salaf kurang diminati dan banyak yang meninggalkan dan beralih buku-buku modern dengan terjemahan yang amburadul dan sarat dengan paham sekuler. Alhasil, hampir seluruh pesantren di Indonesia berlomba-lomba mengemas se-apik mungkin agar tetap diminati. Seperti dicampur dengan kurikulum pemerintah dan sistem belajar mengajar di kelas. Dan memberikan ijazah yang dapat digunakan untuk masa depan santri, tak terkecuali Al Khairaat.
Guru Tua, sejak 1930 bergerilya mendirikan madrasah hingga akhir hayat beliau sudah membangun lebih dari 500 madrasah di Indonesia Timur dengan berbagai jenjang pendidikan hingga pendirian Universitas Al-Khairaat.
Seakan tahu akan tuntutan zaman, Guru Tua atau Habib Idrus bin Salim Aljufri dan Habib Abdullah bin Mahfudz berusaha memberikan terobosan dengan memberikan ijazah yang diakui di negaranya bahkan dunia.
Sistem belajar di Ahgaff sama seperti di Al Khairaat. Sama persis seperti Ustad Muthahhar Aljufri mengajar Gawaid di kelas. Baca kitabnya bergantian, kemudian kadang dituliskan di papan tulis untuk memperjelas dengan menggambarkan tabel atau pembagian hingga memudahkan dalam pemahaman.

Kenapa Kalian Harus Masuk Ahgaff
Zaman sudah berubah,kalian pintar tapi tidak punya hitam di atas putih. Tidak memiliki surat pengakuan bahwa kalian adalah orang yang berpendidikan. jarang yang mau memakai kalian, paling tinggi jadi pengurus masjid atau bagian urusan fardu kifayah yang berurusan dengan mayat atau sebagai tukang doa. Susah mendapat kedudukan, ini semua bahasa kasarnya.
Satu pejaran yang saya dapatkan dari ayah saya, kenal bukan? Di a mumpuni urusan agama, belajar kitab-kitab besar yang saya atau bahkan kalian sendiri belum pernah mempelajarinya. Namun,pendidikan formalnya hanya sampai kelas tiga SD. Di kalimantan, saya pernah diceritakan oleh ibu saya, kalau bapak saya pernah ditawari bekerja di Pengadilan Agama Tanjung Selor, dan itu tanpa tes. Tapi sayang karna tidak memiliki ijazah walau ijazah SD, maka tak jadilah bekerja di pengadilan agama. Dan pada akhirnya ayah saya mengajar di pesantren tanpa ijazah, dan bisa dipastikan hanya ayah sayalah yang tak memiliki ijazah.
Berlanjut ke Ahgaff, saat pendiriannya walaupun habaib dan masyayikh tarim bersedia mengajar, tapi tidak untuk memasukkan anaknya belajar di Ahgaff. Mereka lebih memasukkan anak-anak mereka ke Ribath Tarim dan Darul Musthofa yang notabene masih alami sufinya. Ada yang masuk dari Tarim, tapi saat itu hanya satu, yaitu Dr Ahmad Baudhon anak mufti tarim sekaligus dosen saya sekarang, selebihnya kebanyakan dari Mukalla, Indonesia dan lain sebagainya. Hingga hampir dua dekade mahasiswa Ahgaff masih didominasi oleh mahasiswa Indonesia yang kini mencapai kurang lebih 700 orang. Dan menurut pengakuan dosen asal Indonesia sekaligus wakil dekan fakultas syariah dan hukum, tahun ini adalh tahun terbanyak mahasiswa asal Tarim. Mereka berbondong-bondong kuliah di Ahgaff, karna sadar akan tuntutan zaman .

Kelebihan Kuliah di Ahgaff.
Kota tarim yang karismanya penuh dengan suasana keilmuwan, bak oase di padang sahara. Disana banyak majelis-majelis ilmu, dan semua ilmu dengan sudut pandang agama insya allah dengan mudah kita dapatkan disana. Kuliah yang terjadwal, dan peraturan yang bebas keluar masuk asrama di waktu yang dibolehkan (malam saja dilarang keluar), memungkinkan kita untuk bisa menimba ilmu di majelis ilmu lain, tidak hanya di kampus. Seperti belajar subuh di Darul Musthofa, atau sehabis magrib di Ribath.

"saat kita bersama para ulama kita adalah ulama, dan saat bersama orang-orang berintelektual kita adalah intelek" begitu h=ujar Habib Abdullah Baharun rektor Universitas Al Ahgaff sekarang.

Demikian coretan, semoga mencerahkan. Untuk lebih lanjutnya mari kita diskusikan di kolom komentar.
mukalla 29 april 2013 jam 2.53