Saturday, 20 October 2012

Stop Surfing Porn



Bismillah walhamdulillah. Semalam seperti malam-malam sebelumnya saya update berita terbaru di vivanews dan Republika Online. Berawal dari berita yang lagi hangat-hangatnya, masalah Gubernur Jakarta yang baru Jokowi kemudian terorisme di Poso. Bosan berita yang termuat di VivaNews itu-itu saja, lanjut ke Republika. Setelah membaca berita utama seputar haji dan sebagainya, saya tertarik membaca berita tentang  pornografi. Terus membaca berita-berita terkait, sampai saya ketemu berita tentang Remaja Negeri Jiran Yang Keranjingan Surfing Situs Cerita Porno.
Pertama kali baca dari judulnya, hati kecil saya berkata "Kenapa jauh-jauh ke Malaysia, di Indonesia sendiri dengan mudah kita dapatkan Cerita-cerita saru''. Dan benar,setelah saya baca lebih lanjut,tertulis
"Seorang pelajar sekolah menengah Rosli (15) seperti dikutip Harian Metro yang terbit di Kuala Lumpur, Rabu mengatakan, dia dan banyak lagi teman-temannya suka membaca cerita porno yang diunggahnya dari sebuah laman asal Indonesia karena bahasa yang digunakan mudah dipahami.
Menurut dia, ada ratusan cerita porno berikut gambar yang bisa dibaca di laman tersebut melalui telepon genggam.
"Dengan bayaran internet 17 ringgit per minggu tidak sukar untuk memasuki laman terkait hanya dengan memasukkan perkataan tertentu dalam bahasa Indonesia sebagai kata kunci," katanya.
Rosli mengaku, cerita porno dari Indonesia lebih disukai remaja dan pelajar seumuran dia karena bahasa yang digunakan lebih mudah dipahami.
"Kami tidak perlu pergi ke toko buku untuk mencari majalah, tapi hanya memerlukan waktu sekitar 30 detik untuk membuka laman tersebut setelah kita membuat bayaran," ujarnya."

Ya miris memang, tapi ini lah kenyataan. Tidak sedikit orang kita menyediakan cerita-cerita saru seperti ini. Baik di blogsite, wapblog, bahkan ada fanspage-fanspage facebook yang menyediakannya yang update hampir tiap hari. Ini sangat merusak generasi bangsa, jika dengan mudahnya dapat mengakses pornografi, bangsa kita akan makin terpuruk moral generasi-generasinya. 
Apa solusinya???Sampai saat ini hal ini belum ada jalan keluarnya
Mari kita mulai dari diri kita sendiri..