Saturday, 20 October 2012

Stop Surfing Porn



Bismillah walhamdulillah. Semalam seperti malam-malam sebelumnya saya update berita terbaru di vivanews dan Republika Online. Berawal dari berita yang lagi hangat-hangatnya, masalah Gubernur Jakarta yang baru Jokowi kemudian terorisme di Poso. Bosan berita yang termuat di VivaNews itu-itu saja, lanjut ke Republika. Setelah membaca berita utama seputar haji dan sebagainya, saya tertarik membaca berita tentang  pornografi. Terus membaca berita-berita terkait, sampai saya ketemu berita tentang Remaja Negeri Jiran Yang Keranjingan Surfing Situs Cerita Porno.
Pertama kali baca dari judulnya, hati kecil saya berkata "Kenapa jauh-jauh ke Malaysia, di Indonesia sendiri dengan mudah kita dapatkan Cerita-cerita saru''. Dan benar,setelah saya baca lebih lanjut,tertulis
"Seorang pelajar sekolah menengah Rosli (15) seperti dikutip Harian Metro yang terbit di Kuala Lumpur, Rabu mengatakan, dia dan banyak lagi teman-temannya suka membaca cerita porno yang diunggahnya dari sebuah laman asal Indonesia karena bahasa yang digunakan mudah dipahami.
Menurut dia, ada ratusan cerita porno berikut gambar yang bisa dibaca di laman tersebut melalui telepon genggam.
"Dengan bayaran internet 17 ringgit per minggu tidak sukar untuk memasuki laman terkait hanya dengan memasukkan perkataan tertentu dalam bahasa Indonesia sebagai kata kunci," katanya.
Rosli mengaku, cerita porno dari Indonesia lebih disukai remaja dan pelajar seumuran dia karena bahasa yang digunakan lebih mudah dipahami.
"Kami tidak perlu pergi ke toko buku untuk mencari majalah, tapi hanya memerlukan waktu sekitar 30 detik untuk membuka laman tersebut setelah kita membuat bayaran," ujarnya."

Ya miris memang, tapi ini lah kenyataan. Tidak sedikit orang kita menyediakan cerita-cerita saru seperti ini. Baik di blogsite, wapblog, bahkan ada fanspage-fanspage facebook yang menyediakannya yang update hampir tiap hari. Ini sangat merusak generasi bangsa, jika dengan mudahnya dapat mengakses pornografi, bangsa kita akan makin terpuruk moral generasi-generasinya. 
Apa solusinya???Sampai saat ini hal ini belum ada jalan keluarnya
Mari kita mulai dari diri kita sendiri.. 


Sunday, 1 July 2012

Markaz Lughoh 2011-2012 D'End (Full Pict)
























Rahasia Mancing Ikan Salap

Tutorial ini terinspirasi dari hobi bapak saya,memancing. Mancing di laut,sungai,parit pokoknya yang berhubungan dengan masalah mancing bapak saya suka. Dan ini adalah salah satu kelebihan bapak saya. Sering saya dengar Tentang kehebatannya memancing, dan dapat saya buktikan dengan mata kepala saya sendiri bahwa itu seribu persen benar.


 Saat saya masih kecil masih sd,saya sering diajak bapak untuk mancing di sungai. Dan yang membuat saya takjub, terlihat di air sekitar senar pancingan banyak sekali ikan yang muncul layak mancing di kolam atau empang. Ikan-ikan berebutan umpan yang tertabur. Dan anda tahu, berapa banyak ikan yang kami dapat saat itu. Saat itu kami mendapat hampir satu karung ukuran 20kg penuh dengan ikan.


Tutorial memancing berikut bukan untuk semua jenis ikan,tapi khusus untuk memancing ikan salap,nama ikan yang saya ceritakan di atas. Ok,bagi anda yang belum tahu ikan salap,akan saya jelaskan sedikit mengenai  jenis ikan ini menurut pengetahuan saya. Ikan ini hidup di air tawar atau air sungai. Bentuknya seperti  ikan mas,nila,ikan putih,atau jelasnya berbentuk pipih dengan warna sisik  putih bersih mengkilat biasanya dan memiliki patin  berwarna merah ada kuningnya sedikit. Ikan ini kalau masih  kecil,anda perlu ekstra hati-hati saat memakannya karna memilik banyak tulang dan tulangnya bercabang. Tapi  jangan takut masalah rasa, ikan ini manis gurih apalagi kalau dibakar atau digoreng.


Lanjut pada inti,cara memancing ikan ini. Untuk memudahkan anda memancing,saya sarankan untuk menggunakan stik atau kayu pancingan dengan bambu dengan diameter 3 cm kira-kira,dan panjang krang lebih 2,5 meter. Gunakan senar ukuran ekstra kecil dengan panjang kira2 2 meteran,mata pancing kabon yang juga ukuran paling kecil,dan pemberat timah kecil(sebaiknya menggunakan timah bekas tempat balon2).


Selanjutnya umpan,ini adalah rahasia keunggulan tutorial ini. Umpan yang  akan digunakan adalah biji kapuk yang sudah dijemur kering,yang kemuidian diolah lagi hingga bisa dijadikan umpan. Silahkan sediakan biji kapuk kira2 setengah kilo,kemudia pilah biji kapuk 1/6 untuk direndam  dengan air panas hingga biji kapuk melembek dengan kadar bisa dipasang di mata pancing. Usahakan biji kapuk tersebut tetap terendam agar memudahkan saat  memancing.

Kemudian 5/6 biji kapuk sisanya lanjut kita sangrai atau  goreng tanpa minyak di wajan,agar lebih kering. Jangan lupa menggoyang-goyangkan  saat menyangrai hingga berbau.Kemudian biji kapuk yang telah disangrai selanjutnya  kita tumbuk dengan alu seperti menumbuk padi hingga halus. Setelah halus,persiapan telah selesai.



Terakhir cara memancing,dengan dengan pancing yang telah kita siapkan di atas. Taburkan bubuk biji kapuk di air yang akan kita pancingi. Gunakan biji kapuk yang sudah dilembekkan,letakkan di mata pancing. Mancinglah dengan kedalaman mata pancing kira-kira satu jengkal.Tips terakhir,jika anda ingin memancing ikan salap ini sebaiknya saat air sungai mau pasang atau mau surut. Dan air sungai saat keadaan jernih.


Ok sob, selamat mempraktekkan tutorial ini. Maaf jika saya tidak bisa memostingkan poto ,soalnya ngga punya potonya. Masa musti saya pulang ke indo dulu..hehe...
ok ya,,wassalam

Monday, 23 April 2012

Ya Waridal Unsi ( Qashidah Habib Ali Simthudduror)

Assalamu 'alaikum..
Saya adalah penikmat qashidah hadromiah,ato qashidah tanpa iringan hadrah atau apa pun jenis alat musik. Berikut ini adalah Qashidah milik Habib Ali Al Habsyi penggubah maulid Simthud durar ato yang jg  dikenal dengan maulis habsyi.Qashidah ini dilantunkan oleh Abdussalam elhassany,seorang penyanyi terkenal asal Maroko yang juga murid Habib Ali Al Jufri....



Sunday, 22 April 2012

Syekh Maulana Al-Magribi Salimbatu


(makam Syekh Ahmad Al-Magribi).

Bulungan-Banyak warga yang belum tahu jika ternyata Wali Allah yang dimakamkan di Desa Salimbatu atau yang dikenal makam Syekh Maulana Al-Magribi, bernama asli Syaid Abdudurachman Al-Idrus berasal dari Sulu Filipina Selatan, dan berjasa besar dalam menyebarkan Islam pertama kali di Bulungan.

Menurut keterangan yang berhasil dihimpun Koran Kaltim, almarhum Syech Syaid Abdudurachman Al-Idrus lebih dikenal dengan sebutan Al-Magribi tatkala beliau wafat. Konon saat prosesi pemakaman dilaksanakan, matahari seakan enggan masuk keperaduannya, karena menghormati kesolehan almarhum yang sepanjang hidupnya hanya dipergunakan untuk beribadah dan berbuat kebaikan kepada sesama.

Namun setelah warga yang ikut memakamkan pulang kerumah waktu sudah menunjukan pukul 08.00 Wita malam. Maka mulai semenjak itulah warga mengeramatkan makam Syech Syaid Abdudurachman Al-Magribi.

Untuk menyebarkan Islam ke Bulungan, Syech Syaid Abdudurachman Al-Idrus ditemani dua murid setianya yaitu Syech Al-Juhri dan Sultan Iskandar salah satu Sultan yang berkuasa di salah satu kerajaan di Sulu Filipina Selatan yang rela meninggalkan harta, keluarga dan kekuasaan yang dimilikinya hanya semata-mata kecintaan yang tinggi kepada Allah SWT.

Setelah Syech Syaid Abdududrachman Al-Idrus wafat, kedua muridnya tetap melaksanakan dakwah untuk mengajak umat islam mengikuti jejak keduanya untuk menegakkan agama Islam. Hingga akhir hayatnya Syech Al-Juhri dan Sultan Iskandar tetap bermukim di Desa Salimbatu diman makam keduanya berdampingan dengan makam sang guru yaitu Syech Syaid Abdudurachman Al-Idrus.

Juru kunci makam Abdul Majid mengatakan, keberhasilan dalam menyebarkan Islam di pesisir Bulungan dan sekitarnya tidak hanya bisa menggugah hati warga. Bahkan gaungnya juga bisa memasuki ke Keraton Kesultanan, dimana kebesaran Islam ini mulai besar di Tanjung Palas ketika era almarhum Sultan Kasimuddin memerintah, dimana satu-satunya Masjid yang dibangun pada masa itu masih bisa kita saksikan sekarang. “Bahkan masih layak untuk dipergunakan sebagai tempat ibadah bagi umat muslim setempat,” urainya. (sah/dari berbagai sumber).

source:http://muhzarkasy-bulungan.blogspot.com

Monday, 16 April 2012

Nebeng Dor-doran





 Ini dy gan,yang paling ane dambain,megang dor-doran. Kalo di indo mana mungkin bisa megang2 gini. Jadi,kemaren waktu temen2 kelas ane lg tanding bola persahabatan ma Mahasiswa Yaman. Alhamdulillah,ane liat orang yg bawa senjata,jd nyempetin dah minjem.Perlu diketahui gan,disini senjata2 kayak ginian nii setiap rumah pasti punya. Menurut mereka perlu.

Wednesday, 4 April 2012

ZARKASYI VAN BULUNGAN: Hikayat Daerah Istimewa Bulungan

ZARKASYI VAN BULUNGAN: Hikayat Daerah Istimewa Bulungan: (Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin, Kepala Istimewa Daerah Bulungan yang pertama sekaligus yang terakhir) Bicara tentang sejarah lawas m...

Wednesday, 21 March 2012

Runtuhnya Kerajaan Bulungan

Dijelaskan dalam buku SEKILAS SEJARAH KESULTANAN BULUNGAN DARI MASA KE MASA yang ditulis oleh: H.S. Ali Amin Bilfaqih, S.Ip. bahwa peristiwa pembakaran dan penjarahan Kesultanan Bulungan terjadi pada tanggal 23-24 Juli 1964. Sejumlah kerabat dan keluarga Sultan ditangkap, terbunuh dan dinyatakan hilang tanpa status. mereka dituduh melakukan gerakan subversif BULTIKEN (Bulungan-Tidung-Kenyah).
Peristiwa ini terjadi setelah masa pemerintahan Sultan Maulana Muhammad Jalaluddin berakhir atau setelah beliau wafat (wafat pada tanggal 21 Desember 1958). Ketika beliau wafat status Bulungan masih merupakan Daerah Istimewa. Beliaulah kepala daerah istimewa Bulungan (DIB) yang pertama dan terakhir karena pada masa selanjutnya dengan Undang Undang Nomor 27 Tahun 1959, status DIB diubah menjadi Daerah Tingkat (Dati) II Bulungan dan ditetapkan Andi Tjatjo Gelar Datuk Wiharja (1960-1963) sebagai Bupati yang pertama. Pada masa selanjutnya Andi Tjatjo digantikan oleh: Damus Managing Frans (1963-1964). Setelah kurang lebih satu tahun beliau digantikan oleh: E.N. Zakaria Mas Tronojoyo (1964-1965). Kemudian secara berurutan hingga pejabat Bupati yang ke-11 (pada saat sekarang ini) adalah Drs. H. Budiman Arifin, M.Si. demikianlah catatan-catatan yang dihimpun dan ditulis oleh Bagian Humas Sekretariat Kabupaten Bulungan dalam Profil Kabupaten Bulungan (2008).
Komparasi data-data tersebut melahirkan analisa logis bahwa sistem pemerintahan kesultanan di wilayah Bulungan telah berakhir setelah Sultan Maulana Muhammad Jalaluddin wafat dan selanjutnya terjadilah sebuah tragedi yang mengenaskan dan tidak berperikemanusiaan itu pada masa transisi antara Damus Managing Frans dengan Mas Tronojoyo.
Kelanjutan dari peristiwa tragis itu seorang putra daerah (Iwan Samariansyah) dalam artikelnya yang ditulis pada sebuah blog ISANDRINESIA DIGEST (2007) memberikan informasi bahwa pada tanggal 1 Februari 2003 dalam acara Temu Kader Partai Golkar di lapangan Agathis Tanjung Selor yang dihadiri Akbar Tanjung, para aktivis dari Kabupaten Bulungan mengajukan gugatan yang dikenal dengan "Bulungan Menggugat". Mereka meminta agar Akbar Tanjung sebagai salah satu tokoh nasional mendukung rakyat di Kabupaten Bulungan menegakkan kebenaran dan keadilan di bumi Tenguyun dalam kaitannya dengan peristiwa sejarah yang pernah terjadi pada tahun 1964.
Dua pasal tuntutan mereka adalah:
(1) Agar pemerintah pusat menyampaikan permohonan maaf kepada ahli waris Kesultanan Bulungan atas terjadinya pembunuhan terhadap 50 orang keluarga Sultan Bulungan pada kejadian tahun 1964.
(2) Agar pemerintah pusat dapat memberikan ganti rugi yang layak atas hancur dan terbakarnya keraton kesultanan Bulungan serta dirampoknya harta benda kesultanan yang kini lenyap tak tersisa.
Terkait dengan hal tersebut sebenarnya Datoe Dissan Maulana dan Datoe Abdul Azis dalam wawancaranya dengan "Gatra.com" di situs gatracom (tertanggal 19 Desembar 2002) juga pernah menjelaskan bahwa runtuhnya kerajaan Bulungan, akibat ulah antek-antek PKI di bawah pimpinan Panglima Kodam Mulawarman, Brigjen TNI Soeharyo yang membakar dan menjarah isi istana. Bahkan, puluhan kerabat keraton dibunuh dengan tuduhan akan melakukan makar dan bergabung dengan Malaysia. Peristiwa subversif itu dikenal dengan "Bultiken" (Bulungan-Tidung-Kenyah). Puluhan kerabat keraton, serta ratusan rakyat yang tidak berdosa dibantai oleh serdadu tanpa proses pengadilan, dan mayatnya dibuang ke laut Tarakan. Bukti bahwa tuduhan makar itu tidak terbukti adalah adanya surat pernyataan minta maaf dari pasukan Soeharyo, serta pengembalian harta benda yang dijarah pada era Orde Baru, namun sebagian benda-benda berharga itu hilang.
Masih dari situs gatracom dijelaskan bahwa Dt. Dissan Maulana adalah putra ke-10 dari almarhum Sultan Maula Muhammad Jalaluddin. Sedangkah Datoe Abdul Azis adalah cucu dari almarhum Dt. Mansyur. Paling tidak, keterangan yang disampaikan oleh mereka memiliki tingkat validasi (keabsahan) yang tinggi. Begitulah sejarah yang mendorong kita untuk berpikir kritis dan apa yang kita lakukan saat sekarang ini adalah sajarah di masa datang. Apakah kita telah berlaku bijak dan bertindak adil? Maka hal tersebut dapat diukur dengan keadaan/kondisi saat ini apakah hari ini telah lebih baik dari pada masa lampau? Marilah kita persiapkan bekal untk generasi penerus demi kemajuan daerah di masa datang.

Source:http://sugeng-arianto.blogspot.com

Kerajaan Bulungan yang mulai terlupakan


Berdirinya Kerajaan Bulungan tidak dapat dipisahkan dengan mitos ataupun legenda yang hidup secara turun-temurun dalam masyarakat. Legenda bersifat lisan dan merupakan cerita rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang benar-benar terjadi. Karena sifatnya yang tidak tertulis dan sering kali mengalami distorsi maka sering kali pula dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya. Yang demkian itulah disebut dengan folk history (sejarah kolektif).
A. Masa Pemerintahan Yang Dipim-pin Oleh Kepala Adat
Kuwanyi, adalah nama seorang pemimpin suku bangsa Dayak Hupan (Dayak Kayan) karena tinggal di hilir Sungai Kayan, mula-mula mendiami sebuah perkampungan kecil yang penghuninya hanya terdiri atas kurang lebih 80 jiwa di tepi Sungai Payang, cabang Sungai Pujungan. Karena kehidupan penduduk sehari-hari kurang baik, maka mereka pindah ke hilir sebuah sungai besar yang bernama Sungai Kayan.
Suatu hari Kuwanyi pergi berburu ke hutan, tetapi tidak seekorpun binatang yang diperolehnya, kecuali seruas bambu besar yang disebut bambu betung dan sebutir telur yang terletak di atas tunggul kayu Jemlay. Bambu dan telur itu dibawanya pulang ke rumah. Dari bambu itu keluar seorang anak laki-laki dan ketika telur itu dipecah ke luar pula seorang anak perempuan. Kedua anak ini dianggap sebagai kurnia para Dewa. Kuanyi dan istrinya memelihara anak itu baik-baik sampai dewasa. Ketika keduanya dewasa, maka masing-masing diberi nama Jauwiru untuk yang laki-laki dan yang perempuan bernama Lemlai Suri. Keduanya dikawinkan oleh Kuwanyi.
Kisah Jauwiru dan Lemlasi Suri kini diabadikan dengan didirikannya sebuah monumen “telor Pecah”. Monumen tersebut terletak di antara jalan sengkawit dan jelarai, yang mengingatkan kita tentang cikal bakal berdirinya kesultanan Bulungan.
Bulungan, berasal dari perkataan “Bulu Tengon” (Bahasa Bulungan), yang artinya bambu betulan. Karena adanya perubahan dialek bahasa Melayu maka berubah menjadi “Bulungan”. Dari sebuah bambu itulah terlahir seorang calon pemimpin yang diberi nama Jauwiru. Dan dalam perjalanan sejarah keturunan, lahirlah kesultanan Bulungan.
Setelah Kuwanyi wafat maka Jauwiru menggantikan kedudukan sebagai ketua suku bangsa Dayak (Hupan). Kemudian Jauwiru mempunyai seorang putera bernama Paran Anyi.
Paran Anyi tidak mempunyai seorang putera, tetapi mempunyai seorang puteri yang bernama Lahai Bara yang kemudian kawin dengan seorang laki-laki bernama Wan Paren, yang menggantikan kedudukannya. Dari perkawinan Lahai Bara dan Wan Paren lahir seorang putera bernama Si Barau dan seorang puteri bernama Simun Luwan.
Pada masa akhir hidupnya, Lahai Bara mengamanatkan kepada anak-anaknya supaya “Lungun” yaitu peti matinya diletakkan di sebelah hilir sungai Kipah. Lahai Bara mewariskan tiga macam benda pusaka, yaitu ani-ani (kerkapan). Kedabang, sejenis tutup kepala dan sebuah dayung (bersairuk). Tiga jenis barang warisan ini menimbulkan perselisihan antara Si Barau dan saudanya, Simun Luwan. Akhirnya Simun Luwan berhasil mengambil dayung dan pergi membawa serta peti mati Lahai Bara. Karena kesaktian yang dimiliki oleh Simun Luwan, hanya dengan menggoreskan ujung dayung pada sebuah tanjung dari sungai Payang, maka tanjung itu terputus dan hanyut ke hilir sampai ke tepi Sungai Kayan, yang sekarang terletak di kampung Long Pelban. Di Hulu kampung Long Pelban inilah peti mati Lahai Bara dikuburkan. Menurut kepercayaan seluruh keturunan Lahai Bara, terutama keturunan raja-raja Bulungan, dahulu tidak ada seorangpun yang berani melintasi kuburan Lahai Bara ini, karena takut kutukan Si Barau ketika bertengkar dengan Simun Luwan. Bahwa siapa saja dari keturunan Lahai Bara bila melewati peti matinya niscaya tidak akan selamat. Tanjung hanyut itu sampai sekarang oleh suku-suku bangsa Dayak Kayan dinamakan Busang Mayun, artinya Pulau Hanyut.
Kepergian Simun Luwan disebabkan oleh perselisihan dengan saudaranya sendiri, saat itu merupakan permulaan perpindahan suku-suku bangsa Kayan, meninggalkan tempat asal nenek moyang mereka di sungai Payang menuju sungai Kayan, dan menetap tidak jauh dari Kota Tanjung Selor ibu kota daerah Bulungan sekarang. Suku bangsa Kayan hingga sekarang masih terdapat di beberapa perkampungan di sepanjang sungai Kayan, di hulu Tanjung Selor, di Kampung Long Mara, Antutan dan Pimping.
Simun Luwan mempunyai suami bernama Sadang, dan dari perkawinan mereka lahir seorang anak perempuan bernama Asung Luwan. Asung Luwan kawin dengan seorang bangsawan dari Brunei, yaitu Datuk Mencang.
Sejak pemerintahan Datuk Mencang inilah timbulnuya kerajaan Bulungan. Datuk Mencang adalah salah seorang putera Raja Brunei di Kalimantan Utara yang telah mempunyai bentuk pemerintahan teratur. Datuk Mencang berlabuh di muara sungai Kayan Karena kehabisan persediaan air minum. Dengan sebuah perahu kecil Datuk Mencang dan Datuk Tantalani menyusuri sungai Kayan mencari air tawar, tetapi suku bangsa Kayan sudah siap menghadang kedatangan mereka. Mujur pihak Datuk Mencang dan Datuk Tantalani cukup bijaksana dapat mengatasi keadaan dan berhasil mengadakan perdamaian dengan penduduk asli sungai Kayan. Dari hasil perdamaian ini akhirnya Datuk Mencang kawin dengan Asung Luwan, salah seorang puteri keturunan Jauwiru.
Menurut legenda, lamaran Datuk Mencang atas Asung Luwan ditolak, kecuali Pangeran dari Brunei itu sanggup mempersembahkan mas kawin berupa kepala Sumbang Lawing, pembunuh Sadang, kakaknya. Melalui perjuangan, ketangkasan dan kecerdasan, akhirnya Datuk Mencang dapat mengalahkan Sumbang Lawing. Perang tanding dilakukan dengan uji ketangkasan membelah jeruk yang bergerak dengan senjata. Datuk Mencang lebih unggul dan meme-nangkan uji ketangkasan tersebut.
B. Masa Pemerintahan Yang Dipim-pin Oleh Kesatria/Wira.
Setelah Asung Luwan menikah dengan datuk Mencang (1555-1594), berakhirlah masa pemerintahan di daerah Bulungan yang dipimpin oleh Kepala Adat/Suku, karena sejak Datuk Mencang memimpin daerah Bulungan, pemimpinnya disebut sebagai Kesatria/Wira.
Datuk Mencang digantikan oleh menantunya yang bernama Singa Laut, yang memerintah tahun 1594-1618.
Untuk pemerintahan selanjutnya adalah Wira Kelana, putra Singa Laut yang memerintah tahun 1618-1640.
Wira Keranda menggantikan ayahnya, Wira Kelana sebagai raja dan memerintah pada tahun 1640-1695.
Pemerintahan selanjutnya adalah Wira Digendung, putra Wira Kelana yang memerintah pada tahun 1695-1731.
Wira Digendung digantikan oleh putranya bernama Wira Amir alias Sultan Amiril Mukminin yang memerintah pada tahun 1731-1777.
C. Masa Pemerintahan Yang Dipim-pin Oleh Seorang Sultan.
Sultan Amiril Mukminin kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Alimuddin dan memerintah pada tahun 1777-1817.
Sultan Muhammad Kaharuddin menggantikan ayahnya dan memerintah pada tahun 1817-1861. kemudian memerintah lagi pada tahun 1866-1873. Sebenarnya ia telah menyerahkan pemerintahan pada anak pertamanya, Sultan Djalaluddin I. Namun oleh karena sering sakit-sakitan maka kekuasaan pemerintahan diambil alih kembali.
Pemegang kekuasaan selanjut-nya adalah Sultan Kalifatul Alam Muhammad Adil (1873-1874). Ia dikenal sebagai ulama yang memiliki banyak pengikut, dan senantiasa menentang kebijakan kerjasama dengan Belanda. Sultan Kalifatul Alam Muhammad Adil mengabaikan seluruh perjanjian yang pernah dilakukan dengan Belanda. Akhirnya ia meninggal dalam suatu perjamuan makan yang diselengga-rakan oleh Belanda.
Sultan Kaharuddin (1874-1889). Pada masa pemerintahannya telah terjalin kerjasama dengan Belanda yang ditandai dengan adanya perjanjian kerjasama (Konterverklaring de tweede II). Pokok perjanjiannya, Belanda dapat menentukan kebijakan Sultan Bulungan termasuk urusan pajak, dan Sultan Kaharuddin terjamin keamanannya. Hal tersebut adalah merupakan langkah awal dari strategi Belanda untuk melakukan penekanan-penekanan yang merugikan rakyat.
Sultan Azimuddin (1889-1899). Meskipun ia bukan putra kandung Sultan Kaharuddin II, pengukuhannya sebagai sultan didukung oleh Gubernur Jenderal Belanda dan mendapat pengesahan melalui Surat Keputusan tertanggal 4 Desember 1889.
Pengian Kesuma (1899-1901) biasa dipanggil dengan sebutan Putri Sibut. Ia adalah istri Sultan Azimuddin. Ia memegang kekuasaan selama 2 tahun.
Sultan Kasimudin (1901-1925). Ia meninggal karena tertembak.
Datu Mansyur (1925-1930). Sesungguhnya ia hanyalah pemangku jabatan sultan. Seharusnya pengganti Sultan Kasimudin adalah Sultan Ahmad Sulaiman yang waktu itu sedang mengikuti pendidikan Holands Inlandsche School (HIS) di Samarinda dan Medan.
Sultan Ahmad Sulaiman (1930-1931), menduduki jabatan setelah pulang dari mengikuti pendidikan Inlandsche School (HIS) di Samarinda dan Medan, dan menjalankan pemerintahan selama sembilan bulan.
Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin II (1931-1958). Adalah Sultan Bulungan yang terakhir. Ia membangun istana baru yang disebut dengan Istana III. Meninggal pada tanggal 21 Desember 1958.