Tuesday, 11 February 2014

Selangkah Lebih Dekat Dengan Rubath Tarim

Berdirinya Rubath Tarim merupakan hasil musyawarah para ulama Tarim dari keluarga A-Haddad, As-Sirri, Al-Junaid dan Al-Arfan untuk mendirikan sebuah Rubath (ma’had) yang kemudian dinamakan “RUBATH TARIM”. Persyaratan bagi calon pelajar juga dibahas pada kala itu, kriteria utama antara lain: calon santri adalah penganut salah satu mazhab dari empat mazhab fiqh (Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali) dan dalam aqidah bermazhab Asy’ariyah (mazhab Imam Abi Hasan Al-Asy’ari) .


Setelah membuat kesepakatan diatas dimulailah pembangunan Rubath Tarim. Untuk keperluan ini, Habib Ahmad bin Umar As-Syatiri (wafat di Tarim tahun 1306 H) mewakafkam rumah beliau (dar muhsin) dan pekarangannya yang berada disebelah pasar di halaman mesjid Jami’ Tarim dan mesjid Babthoinah (sekarang mesjid Rubath Tarim). Wakaf juga datang dari Al-Allamah Al-Muhaddits Muhammad bin Salim As-Sirri (lahir di Singapura 1264 H, dan wafat di Tarim 1346 H)

Habib Salim bin Abdullah As-Syatiri (pengasuh Rubath Tarim sekarang) menambahkan bahwa pedagang-pedagang dari keluarga Al-Arfan juga mewakafkan tanah yang mereka beli di bagian timur, mereka kemudian dijuluki tujjaru ad-dunya wa al-akhirah (pedagang dunia dan akhirat). Datang juga sumbangan melalui wakaf rumah, kebun, dan tanah milik keluarga-keluarga habaib di luar Yaman, seperti Indonesia, Singapura, dan Bombosa Afrika.

Akhirnya selesailah pembangunan Rubath Tarim di bulan Dzulhijjah tahun 1304 H dan secara resmi dibuka pada 14 Muharram 1305 H, keluarga Al-Attash tercatat sebagai santri pertama yang belajar di Rubath Tarim kemudian datang keluarga Al-Habsyi begitu selanjutnya berdatangan para pelajar, baik dari Hadramaut sendiri maupun dari luar Hadramaut bahkan dari luar negeri Yaman. Habib Ahmad bin Hasan Al-Attash berkata: “perealisasian pembangunan Rubath Tarim ini tidak lain adalah niat semua salafusshalihin alawiyiin, hal ini terbukti dengan manfaatnya yang besar serta meluas mulai dari bagian Timur bumi dan Barat”.





Pengasuh

1. Pengasuh I
Mufti Diyar Hadramiyah Sayyidina Al-Imam Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (pengarang kitab Bugyatul Mustarsyidin), beliau lahir di Tarim tahun 1250 H. Beliau mengasuh Rubath Tarim hingga tahun 1320 H, dengan di bantu ulama-ulama lain yang ada pada masa itu, seperti Al-Allamah Syekh Ahmad bin Abdullah Al-Bakri Al-Khatib (1257-1331 H), Al-Allamah An-Nahrir Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Masyhur (1263-1341), Al-faqih Al-Qadhi Husein bin Ahmad bin Muhammad Al-kaff (pejabat qadhi di Tarim selama dua kali, wafat 1333 H), Al-Allamah As-Sayyid Hasan bin Alwi bin Sihab, Al-Allamah Syekh Abu Bakar bin Ahmad Al-Bakri Al-Khatib (1286-1356). Para mudarris inilah yang mengajar di Rubath Tarim sejak pertama kali dibuka pada tahun 1305 hingga tahun 1314 H.

2. Pengasuh II

Al-A'llamah Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Masyhur (lahir di Tarim tahun 1274 H), mudarris di zawiyah Syekh Ali bin Abu Bakar bin Abdurrahman As-Segaf. Beliau mengasuh Rubath Tarim sejak wafatnya sang ayah (Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur) pada tahun 1320 H dan terus berlangsung hingga tahun 1344 H ketika beliau berpulang kerahmatullah pada tahun itu pada tanggal 9 Syawal.

3. Pengasuh III


Al-Habib Abdullah bin Umar As-Syatiri RA (lahir di Tarim bulan Ramadhan tahun 1290 H), yang kemudian diberi mandat oleh pemuka kota Tarim untuk menjadi pengasuh ketiga yang semula menjadi wakil Habib Ali bin Abdurrahman Al-Masyhur sejak tahun 1341 H jika beliau berhalangan mengajar dan telah menjadi mudarris di Rubath Tarim sejak datang dari Mekkah pada tahun 1314 H. Pada mulanya beliau belajar di kota kelahiran kepada para masyayikh di sana terutama kepada Habib Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Masyhur dan Habib Ahmad bin Muhammad Al-Kaff. Kemudian beliau pindah ke Seiwun (25 KM sebelah barat laut kota Tarim) dan belajar di Rubath Habib Ali bin Muhammad bin Husien Al-Habsyi selama kurang lebih empat bulan, juga kepada Habib Muhammad bin Hamid As-Segaff, dan saudara beliau Umar bin Hamid As-Segaf, serta Habib Abdullah bin Muhsin As-Segaf.

Pada waktu berumur 20 tahun (tahun 1310 H), beliau pergi ke Mekkah bersama orang tua beliau Habib Umar As-Syatiri, untuk menunaikan ibadah haji dan ziarah kepada Rasulullah SAW. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, beliau meminta izin kepada ayah beliau untuk tinggal di Mekkah guna menuntut ilmu. Dan tercatat sejak tanggal 15 Muharram 1211 H hingga 15 Dzulhijjah 1313 H beliau belajar pada ulama-ulama di kota suci itu, diantaranya kepada Syekh Al-Allamah Umar bin Abu Bakar Ba Junaid, Syekh Al-Allamah Muhammad bin Said Babsheil, Habib Husein bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi (saudara Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Seiwun), Habib Ahmad bin Hasan Al-Attash, dan Al-Faqih Al-Abid Abu Bakar bin Muhammad Syatho (pengarang kitab hasyiyah I’anatu At-Thalibin ‘ala fathi Al-mu’in).
Konon ilmu nahwu sangat sulit bagi beliau, sampai beliau berujar (sebagaimana yang dituturkan putera beliau Habib Salim bin Abdullah As-Syatiri):”…..dulu saya punya kitab kafrawi syarah al-jurumiah yang penuh dengan air mata….. “ kerena sulitnya ilmu itu bagi beliau. Namun kemudian Allah SWT menganugerahi beliau ke-futuh-an.”….tatkala saya berada di Mekkah, semua risalah yang datang, saya taruh dibawah tempat tidur, saya berdo’a di Multazam agar Allah SWT membukakan bagi saya ilmu yang bermanfaat, dan agar ilmu saya menyebar di bumi barat dan timur, maka acap kali saya berdo’a dengan do’a ini, terlintas dalam benak, bahwa saya akan menjadi musafir yang pindah dari satu negeri ke negeri yang lain untuk mengajar umat akan tetapi berapa lama umur manusia untuk semua itu ?…”. Maka Allah SWT mengabulkan do’a beliau, Allah SWT memudahkan pelajar Rubath, sehingga datang kesana para penuntut ilmu dari penjuru dunia, mereka menjadi ulama, dan menyebarkan ilmu mereka masing-masing maka menyebarlah ilmu beliau (Habib Abdullah bin Umar As-Syatiri) di timur dan barat.

Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafidz (salah seorang murid beliau) berujar:.Habib Abdullah bercerita kepada kami bahwa lama tidur beliau kala itu (selama balajar di Mekkah) tidak lebih dari 2 jam saja setiap harinya, beliau belajar kepada guru-gurunya sebanyak 13 mata pelajaran pada siang dan malam, serta menelaah kembali semua pelajaran itu (tiap hari)……”.

Selama kurang lebih lima puluh tahun beliau mengajar di Rubath Tarim (1314-1361 H) selama itu hanya enam jam beliau berada di rumah, sedangkan delapan belas jam dari dua puluh empat jam tiap hari, beliau berada di Rubath Tarim untuk mengajar dan memimpin halaqah-halaqah ilmiah, jumlah murid yang telah belajar di Rubath Tarim tak dapat diketahui secara pasti jumlahnya. Dalam biografi Habib Muhammad bin Abdullah Al-Hadar (salah seorang murid di Rubath Tarim) menyebutkan bahwa lebih dari 13.000 alim telah keluar dari Rubath Tarim Dibawah asuhan Habib Abdullah bin Umar As-Syatiri.


4. Pengasuh IV
Al-Habib Hasan bin Abdullah bin Umar As-Syatiri.

5. Pengasuh V
Al-Habib Salim bin Abdullah bin Umar As-Syatiri (pengasuh sekarang)   

Sistem Belajar

Sejak berdiri hingga sekarang (kurang lebih 121 tahun) pengajian di Rubath Tarim dilaksanakan dengan sistem halaqah yang dibimbing oleh para masyayikh. Klasifikasi ini disesuaikan dengan tingkatan masing-masing pelajar. Tiap halaqah mengkaji berbagai fan keilmuan tak kurang dari sepuluh halaqah sejak pagi hingga malam mengkaji ilmu-ilmu agama dan diikuti oleh para pelajar dengan disiplin dan khidmat.
 
Kitab-Kitab Yang Dipelajari

Adapun kitab-kitab yang dipelajari pada tiap halaqah disesuaikan dengan kemampuan santri (semacam tingkatan kelas), antara lain:
1. Umdah
2. Fathul mu’in
3. Minhajut thalibin dan sarahnya
4. Nahwu
5. Fawaid sugra dan kubra
6. Matan Al-jurumiah
7. Al-fushul Al fikriah Fiqh
8. Ar risalatul Al jamiah
9. Mukhtasar Shagir
10. Mukhtasar Kabir
11. Abi Suja’
12. Fathul Qarib
13. Zubad
14. Mutammimah
15. Qatrun Nada
16. Syudzuru dzahab
17. Alfiyah Ibnu Malik
18. Zawaid (tambahan) Alfiah Ibnu Malik

Setelah menamatkan kitab-kitab diatas para pelajar melanjutkan pada materi-materi lain, seperti Hadits, Tafsir, Usul fiqh.

Waktu Belajar

Para pengurus Rubath Tarim memperhatikan semua aktifitas pelajar dengan secara cermat. Jadwal rutinitas keseharian para pelajar dimulai sejak sebelum shalat subuh dengan melaksanakan shalat tahajud, dilanjutkan shalat subuh berjamaah dimesjid Babthoin, disertai pembacaan aurad.

Baru kira-kira pukul 05.00 s.d 07.00 pagi, digelar pengajian nahwu atau lebih akrab disebut dars nahwu. Setelah itu para pelajar dipersilahkan makan pagi. Pada jam 07.30 dilaksanakan mudzakarah tiap halaqah selama sekitar setengah jam untuk persiapan pengajian yang akan di pelajari bersama masyayikh yaitu hafalan matan sampai pukul 09.00.

Selama tiga jam berikutnya adalah waktu istirahat hingga Dzuhur, setelah menunaikan shalat Dzuhur diadakan hizb (tadarus) Al-Qur’an selama setengah jam. Setelah itu para pelajar dianjurkan tidur siang untuk persiapan mengaji pada sore hari.

Pada pukul 15.00 setelah shalat Ashar berjamaah, semua pelajar mengaji tiap halaqah sampai pukul 17.00, setelah shalat magrib dilanjutkan dengan hizb (tadarus) Al-Qur’an dan pengajian halaqah sampai pukul 20.15. Setelah makan malam para pelajar diharuskan mengikuti halaqah selama setengah jam untuk persiapan pelajaran pagi.

Sebagian Staf Pengajar adalah :
1. Al-Habib Salim bin Abdullah bin Umar As-Syatiri
2. Syekh Abu Bakar Muhammad Balfaqih
3. Syekh Umar Abdurrahman Al-Atthas
4. Syekh Abdullah Abdurrahman Al-Muhdhar
5. Syekh Muhammad Ali Al-Khatib
6. Syekh Muhammad Ali Ba'udhan
7. Syekh Abdullah Umar bin Smith
8. Syekh Abdurrahman Muhammad Al-Muhdhar
9. Syekh Hasan Muhsin Al-Hamid
10. Syekh Abdullah Shaleh Ba’bud
11. Syekh Muhammad Al-Haddad
12. Syekh Abdullah Umar Bal Faqih

Selain para masyayikh diatas, para senior juga diwajibkan membimbing halaqah tingkat bawahnya.
 
Fasilitas-Fasilitas 
  • Kamar-kamar peristirahatan santri
  • Wartel
  • Toserba 
  • Perpustakaan

Sebagian ulama Yaman yang telah belajar di Rubath Tarim, juga yang berasal dari luar negeri, antara lain:
1. Al-Imam Syaikhul Islam Al-Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddar (1340-1418 H), mufti propinsi Baidha, Yaman dan pendiri Rubath Al-Haddar lil ulumus Syariat.
2. Al-Allamah Habib Hasan bin Ismail bin Syekh, pendiri Rubath Inat Hadramaut.
3. Al-Allamah Al-Habr, pejabat qadhi as-syar’i Baidha, Habib Muhammad bin Husien Al-Baidhawi.
4. Al-Habib Abdullah bin Abdurrahman bin Syekh Abu Bakar bin Salim, pendiri Rubath Syihr.
5. Al-Habib Husein Al-Haddar, ulama besar kelahiran Indonesia dan meninggal di Mukalla Hadramaut.
6. Al-Habib Muhammad bin Salim Bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar bin Salim, pengarang dari berbagai kitab figh dan faraid ayah dari Al-Habib Ali Masyhur bin Hafidz dan Al-Habib Umar bin Hafidz pendiri ma’had Dar Al-Musthafa Tarim Hadramaut.
7. Al-Habib Al-Wara’ As-Shufi Ahmad bin Umar As-Syatiri, pengarang kitab Yakutun nafis, Nailurraja’ syarah Safinatun naja’ dan sebagainya.
8. Al-Habib Muhammad bin Ahmad As-Syatiri, pengarang kitab Syarah yakutun nafis, Mandzuma Al-Yawaqit fifanni Al-Mawaqit (ilmu falaq), kitab Al-Fhatawa Al-Muassyirah dan sebagainya.
9. Al-Allamah Syekh Muhammad bin Salim Al-Baihani, pendiri ma’had Al’ilmi, Aden.
10. Al-Allamah Habib Muhammad bin Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, Jakarta, Indonesia.
11. Al-Wajih An-Nabil Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Balfaqih (wafat tahun 1381 H), pengasuh ma’had Darul Hadits Al-Faqihiyyah, Malang, Indonesia.
12. Al-Faqih An-Nabil pejabat qadhi as-syar’i Banjarmasin Syekh Ahmad Said Ba Abdah.
13. Habib Abdullah Al-Kaff, Tegal, Indonesia.
14. Habib Ahmad bin Ali Al-Attash, pekalongan.
15. Habib Abdurrahman bin Syekh Al-Attas, Jakarata.
16. Habib Abdullah Syami Al-Attas, Jakarta.
17. Syekh Al-Allamah Umar Khatib, Singapura.
18. Habib ‘Awad Ba’alawi, sesepuh ulama Singapura.
19. Syekh Abdurrahman bin Yahya, qadhi Kelantan, Malaysia.
20. Sayyid Al-Muhafidz Al-Majid Al-Adib Hamid bin Muhammad bin Salim bin Alwi As-Sirri, pengajar di Rubath Tarim dan Jam’iyatul Al-Haq di kota yang sama, kemudian pindah dan mengajar di Malang, Indonesia.
21. Habib Alwi bin Thohir Al-Haddad, Mufti Johor, Malaysia




Dan banyak lagi para ulama yang telah belajar di Rubath Tarim , yang tak mungkin disebutkan nama-nama mereka karena mencapai ribuan. Habib Alwi bin Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar di Indonesia, mengatakan:”…tak kutemukan satu daerah atau pulau di Indonesia yang saya masuki, kecuali saya dapati orang orang yang menyebarkan ilmu disana adalah alumni Rubath Tarim atau orang yang belajar kepada orang yang telah belajar disini…”.

Habib Musthafa bin Ahmad Al-Muhdhar menulis pada sebagian surat beliau kepada ahli Tarim:”….Ilmu As-Syatiri (Habib Abdullah bin Umar As-Syatiri) teruji dengan penyebarannya menyebar kesegala penjuru, dari daerah yang satu kedaerah yang lain, menyebar ke Hindia, China, negara-negara Arab, Somalia, Malaibar, dan sebagainya….”.

Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafidz menambahkan:”…..(Habib Abdullah As-Syatiri) berhak mengatakan jika beliau mau sebagaimana yang dikatakan Imam Abi Ishaq As-Syairozi tatkala memasuki Khurasan,”tak aku dapati disatu kota pun dari kota-kota disana, Qadhi atau Alim kecuali dia adalah muridku atau murid dari muridku……..”

Demikian lah sekelumit sejarah Rubath Tarim yang panjang dan agung, yang telah belajar disana beribu-ribu ulama, al-allamah, faqih, mufti, qadhi, syair bahkan para aulia Allah SWT. Dan saat ini Rubath Tarim telah memasuki usia yang ke-121 tahun, ratusan pelajar dari Yaman, Indonesia, Malaysia, Singapura, Tanzania, Afrika, dan sebagainya tengah menimba ilmu di sana, di bawah asuhan Al-Allamah Habib Salim bin Abdullah As-Syatiri.
 
Informasi dan keterangan lebih lanjut bisa menghubungi :
Al-Habib Abdurrahman bin Syekh Al-Atthas , P.T. Barfo Mahdi, Jl. Asem Baris Raya, No: 3 - Kebun Baru – Tebet – Jakarta
Telp. Kantor: (0062)(21)8303762830244.
Telp. Rumah: (0062)(21)8354445

Website: www.rubat-tareem.net

Source: ppihadhramaut.com

Categories: , ,

Tuesday, 4 February 2014

Serambi Tarim #BagianPertama

Serambi TarimINILAH TARIM ; IBU KOTA KEBUDAYAAN ISLAM 2010

Ibu Kota Spiritual
Sederhana, mungkin itulah ungkapan yang pas mendekripsikan bagaimana Tarim. Anda jangan pernah membayangkan Tarim sebagai sebuah kota metropolitan yang jalanannya macet, lalu lintasnya ramai dengan klakson kendaraan, gedung pencakar langit di sana-sini, serta jenis kemewahan lainnya. Tarim tidak seperti Kairo, Dhoha, atau Sana’a.

Di kota asal muasal kakek moyang Wali Songo ini, pemukiman penduduk masih didominasi oleh  rumah-rumah yang terbuat dari tanah liat yang dikeringkan. Banyak rumah yang jika dilihat dari luar, konstruksi bangunannya nyaris seperti tembok lapuh yang hampir roboh. Aromanya begitu klasik. Dari data yang saya telusuri, diantara rumah tanah itu ada yang kini usianya telah mencapai tiga abad.

(Tentang bagaimana seluk beluk rumah tanah ini, akan saya khususkan di catatan tersendiri. Insya Allah).

“Di Tarim, saya selalu mengingat akhirat,” ungkap Michels, santri muallaf asal Argentina saat sambutan perpisahan Daurah Ramadhan di Ma’had Darul Mushtafa tahun lalu, dengan mata berkaca-kaca.

Ya. Tarim memang oase hati bagi para penempuh lorong tazkiyah ; pensucian jiwa. Masyarakat Tarim ditempa dengan tradisi keberagamaan yang begitu kuat. Di sini, tapakan-tapakan konsep sufistik seperti nilai zuhud (asketisme), ikhlas, mahabbah (cinta), dan nilai-nilai tasawuf yang lain tak hanya menggelinding sebagai sebuah teori. Namun juga menjelma dalam perilaku keseharian masyarakatnya. Karya – karya Imam al-Haddad semisal ; Risalah Muawanah, Nashoih Diniyah, ad-Dakwah at-Tammah , dll seakan menjadi karya yang hidup. Mungkin itulah sebabnya, Direktorat Nasional Pariwisata Yaman, menjuluki Tarim sebagai ‘Ashimah Ruhiyyah ; Ibu Kota Spiritual.


Ibu Kota Kebudayaan Islam
Jatuhnya pilihan ISISCO menjadikan Tarim sebagai Ibu Kota Kebudayaan Islam (Capital of Islamic Culture) pada tahun 2010 tentu bukan tanpa alasan. Sebelumnya, status yang sama diberikan kepada Makkah (2005), Halb – Syiria (2006), Fas - Maroko (2007), Alexandria - Mesir (2008), dan Kairouan – Tunisia (2009). Terpilihnya Tarim melalui hasil keputusan Muktamar ke – 4 yang dihelat di Al-Jazair pada tahun 2004.

Pengajian Umum bersama al-Habib Umar bin Hafidz di Pelataran Ma'had Darul Mushtafa
Mengapa Tarim bisa menempati posisi yang elegan ini ?

Jawabannya mudah. Tarim adalah gudang ilmu. Berabad – abad, kajian-kajian keislaman hidup lestari. Sejak Sahabat Nabi Labid bin Ziyad menancapkan bendera Islam di bumi Hadramaut, Tarim menjadi kota yang berperan besar bagi tumbuh kembang dan penyebaran Islam. Salah satu bukti kongkrit, bisa dilihat dari jumlah masjid yang berdiri di kota berpenduduk sekitar 100 ribu orang ini.

Abdul Hakim al-‘Amiry menyebut, total masjid di Tarim mencapai angka 360 masjid. (Akibatnya, suara adzan terdengar bersahut-sahutan karena masjid yang berdekatan). Masjid yang tertua adalah Masjid Wa’el (berdiri tahun 43 H) yang didirikan oleh Tabiin, Ahmad bin Abbad bin Bisyir.

Ahmad Abdullah bin Syihab dalam bukunya Tarim baina al-Madhi wal Hadhir menyebutkan, aktivitas keilmuan di Tarim di awal perkembangannya berporos pada zawiyah – zawiyah yang diasuh Ulama-Habaib. Di tempat tersebut, para masyayikh membacakan kitab keislaman kepada masyarakat. Diantara sekian banyak zawiyah yang masih eksis dan konsisten hingga kini, adalah zawiyah Masjid Syekh Ali bin Abi Bakr as-Sakron.

Menara ilmu semakin bersinar dengan munculnya sejumlah ribath (pesantren) serta madrasah. Salah satunya adalah Ribath Tarim yang resmi berdiri tahun 1304 H. Hingga kini, Ribath Tarim masih mempertahankan sistem klasikal berupa halaqah-halaqah. Ribath Tarim – yang saat ini diasuh oleh al’Allamah Habib Salim as-Syathiri - adalah salah satu basis kajian Madzhab Syafii di Yaman.  Pengajian kitab-kitab Syafiiyah mulai dari dasar seperti Safinatun Najah, Yaqut an-Nafis, tingkat menengah seperti Fathul Muin, Minhaj Thalibin, hingga tingkat senior seperti Tuhfatul Muhtaj karya Ibnu Hajar diselenggarakan secara gradual dan sistematis.

Halaqah-halaqah ilmu yang membahas berbagai cabang ilmu ; fikih, nahwu, hadis, tafsir, dll itu tak hanya diikuti santri yang mukim di Ribath. Namun juga disemarakkan oleh warga Tarim. Kawan-kawan mahasiswa Indonesia Al-Ahgaff sendiri, banyak yang terdaftar sebagai peserta halaqah tetap. Mereka itu tentu saja para mahasiswa yang punya semangat ekstra. Ada pula pengajian umum yang digelar mingguan,yang di kenal dengan istilah Rauhah (setiap Jumat malam sabtu), dan Madras (setiap Sabtu dan Rabu pagi). Baik Rauhah maupun Madras, sama-sama diasuh oleh Habib Salim as-Syathiri.

Sebagai pusat penggemblengan para dai, ada ma’had Darul Musthafa yang saat ini diasuh Habib Umar bin Hafidz. Habib Umar adalah dai Internasional yang dikenal terus berusaha membina ukhuwah umat. Beliau adalah tokoh Islam yang sejak lama memproklamirkan wajah Islam yang moderat, toleran, dan tawassuth. Darul Mushtafa sendiri, sebagaimana di beritakan New York Times (2009), adalah lembaga pendidikan multikultural. Banyak pelajar yang berasal dari Asia hingga Eropa. Bersama Darul Mushtafa, ada Daruz Zahra untuk pelajar putri.

Dinamika kajian keislaman di Tarim semakin komplit dengan berdirinya Fakultas Syariah wal Qanun Universitas Al-Ahgaff tahun 1995. Universitas yang berpusat di kota Mukalla ini, sengaja meletakkan fakultas syariahnya di Tarim. Ahgaff merupakan representasi dari corak lembaga pendidikan yang ingin melahirkan insan akademis, namun tak terlepas dari tradisi ‘kitab kuning’. Di awal berdirinya, Ahgaff memulai jam pertama perkuliahan selepas shalat shubuh (05.30). Diktat muqorror yang dijadikan mata kuliah adalah gabungan kitab-kitab salaf dengan buku kontemporer. Saat ini, ada sekitar 500 pelajar Indonesia yang studi di sini.

Selain bertaburnya lembaga-lembaga pendidikan dan tahfidz Al-Qur’an yang telah berlangsung berabad-abad, juga ada perpustakaan manuskrip yang menyimpan karya otentik salafuna shalih. Diantanya adalah Ahgaff Library for Manuscrip yang terletak di jantung kota Tarim, di lantai atas Masjid Jami’ Tarim.

Jika anda ke Tarim, anda akan merasakan nuansa yang tak jauh berbeda dengan tanah air. Pakaian keseharian warga Tarim adalah sarung, kopyah, dan baju takwa. Sopan santun ‘khas santri’ masyarakatnya akan selalu mengingatkan saya pada Pulau Jawa, tempat saya belajar. Oh iya, ada sedikit perbedaan ; warga Tarim hidungnya mancung ke depan, kalau warga Indonesia mancungnya ke belakang, he he he. Mungkin ini dulu, yang bisa saya ceritakan tentang Tarim. Sampai jumpa lagi di Serambi Tarim berikutnya.

*Postingan ini ditulis oleh kakak tingkat saya di Universitas Al-Ahgaff Yaman, Dzul Fahmi Kasto.

Categories: , , ,

Monday, 20 January 2014

Mengenal Lebih Jauh Universitas Al-Ahgaff Yaman

Tentang Universitas Al-Ahgaff Yaman

  Universitas Al-Ahgaff didirikan oleh Al-Habib Mahfudz bin Abdullah Al-Haddad. Resmi berdiri serta mulai membuka proses pendidikannya setelah mendapatkan izin resmi dari pemerintah Republik Yaman melalui ketetapan Mentri Pendidikan Yaman Nomor : 5 Tahun 1994. Dan telah terdaftar sebagai anggota Persatuan Universitas Arab (Ittihad Al-Jamiat Al-Arabiyyah).

 Berawal dari sebuah keinginan untuk bisa menyediakan sarana pendidikan yang bonafid dan berkualitas pada masyarakat muslim dunia, pendidikan yang mampu mencetak kader insan yang mumpuni dalam segala aspek kehidupan dan menanamkan ruh islami serta aqidah yang benar dalam pribadi pelajarannya.

  Universitas Al-Ahgaff berpusat di kota Al-Mukalla ibukota propinsi Hadhramaut Republik Yaman. Segenap yang komponen yang dimiliki Al-Ahgaff, seperti fakultas-fakultas, language center atau sekolah persiapan bagi mahasiswa baru, dan gedung rektorat sebagai pengendali utama kebijakan – kebijakannya semua berada dikota yang berada disemenanjung arab ini. Hanya Fakultas Syariah dan Hukum saja yang berada dikota Tarim Al-Ghanna. Hal ini sengaja dilakukan guna terwujudnya pendidikan syariah yang tidak berpusat dibangku kuliah belaka, tetapi perlu adanya kombinasi metode pendidikan melalui bi’ah (lingkungan).

 Mengingat kota Tarim terkenal sebagai kota ilmu dan ulama’. Kota Tarim sendiri terletak sekitar kurang lebih 300 KM dari ibukota propinsi, sedangkan untuk putri jurusan Dirosah Islamiyyah tetap mengikuti induknya di kota Al-Mukalla. Diantara alasan ditempatkannya fakultas Syariah dan Hukum terpisah dari induknya adalah factor kultur social kemasyarakatan kota ini yang sangat mendukung untuk dijadikan sebagai tempat bertafaqquh fiddin. Juga karena factor sejarah yang telah mendorong ditempatkannya fakultas ini di kota Tarim. Sebab sebagaimana yang telah diketahui bahwa dari sinilah islam dibeberapa belahan dunia (seperti Asia dan Afrika) bisa menyebar dan berkembang dengan pesat berkat kegigihan dan keikhlasan para tokohnya dalam berdakwah menyebarkan islam.

Metode Pengajaran

Metode pengajaran yang ditetapkan Universitas Al-Ahgaff selama ini adalah istem semester. Jenjang pendidikan yang berdiri dari sepuluh semester dan bisa ditempuh minimal selama 5 tahun dan maksimal selama 7 tahun (untuk Fakultas Syariah dan Hukum, Fakultas Sastra, dan Fakultas Kajian Islam) dan 8 tahun (untuk Fakultas Tehnik, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Ilmu dan Teknologi). Dan perlu diketahui bahwa Universitas yang berlambangkan masjid Al-Muhdhor initelah membuka program pasca sarjana dijurusan syariat dan sastra bahasa arab. Tetapi untuk mahasiswa Indonesia hanya diarahkan kepada :
  • Fakultas Syariah dan Hukum (Putra)
  • Fakultas Dirosah Islamiyyah (Putri) 

Untuk menghindari kemalasan mahasiswa dalam belajar dalam rangka menjaga mutu dan kualitas ilmu para alumnusnya maka Universitas Al-Ahgaff menerapakan absensi pada setiap mata kuliah. Ketidak hadiran mahasiswa akan mempengaruhi kelulusan mata kuliah tersebut. Dalam prosentasi absen, mahasiswa yang tidak hadir melebihi batas 10% dari jam materi akan dianggap gagal dalam mata kuliah tersebut. Mungkin inilah salah satu ciri khas tersendiri bagi Uninersitas Al-Ahgaff yang sama sekali tidak memperbolehkan mahasiswanya ber-intisab (hanya hadir dalam waktu ujian saja). Dan selain itu, yang membedakan universitas ini dengan universitas-universitas yang ada dibelahan dunia adalah system penilaian dan tingkat kenaikan tingkat menurut hasil tiap mata kuliah disetiap semester dari hasil penggabungan nilai ujian akhir dan dua kali nilai ujian penyaringan (ujiansyahr awal dan syahr tsani).



Waktu kuliahnya adalah setiap hari selain Jum’at, dimulai jam 08.00 pagi – 13.00 siang dari paket kuliah yang sudah ditentukan oleh pihak kuliah. Dan terkadang jadwal kuliah dilakukan pada sore hari dan malam hari menurut jadwal yang ditentukan

Bahasa Pengantar Kuliah

Bahasa pengantar yang digunakan pada setiap mata kuliah adalah bahas arab. Dan ini bkanlah satu-satunya bahasa yang boleh digunakan di universitas ini, sebab majelis universitas sebagai dewan tertinggi di Al-Ahgaff mempunyai kewenangan untuk menerapkan selain bahasa arab pada sebagian mata kuliah selain ilmu agama.

Fakultas Syariah dan Hukum
Fakultas Syariah dan Hukum adalah salah satu fakultas yang ada di Universitas Al-Ahgaff yang ditempatkan disebuah kota ulama’ dan ilmu, Tarim Al-Ghanna. Terus berorientasi memelihara dan menggabungkan tradisi salafdan khalaf.

Mata Kuliah Fakultas Syariah dan Hukum
  Secara umum mata kuliah fakultas ini didominasi oleh pelajaran-pelajaran agama, walaupun disini dikaji pula tentang ilmu hokum (hokum-hukum yang berlaku dan diterapkan di Yaman). Prosentasi antara kajian syariah dan kajian hokum di Fakultas ini mungkin sekitar 70% syariah dan 30% hukum. Selain itu mahasiswa juga mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan computer.

Mengenal Lebih Jauh Universitas Al-Ahgaff Yaman [Profil]
 Diantara disiplin ilmu syariah yang dikaji disini adalah : Fiqih Madzhabi, Fiqih Perbandingan, Ushul Fiqih, Tarikh Tasyri’, Ahwal Syahsiyah, Ulumul Qur’an, Maqashid As-Asyr’iyyah, Ayatul Ahkam, Haditsul Ahkam. Nahwu, Lughot Arabiyyah, Mantiq, Balaghah, dan lain sebagainya.

Kemudian diantara fan hukum yang dikaji difakultas ini adalah: Madkhal Qanun, Qanun Madany, Qanun Uqubat, Qanun Iltizamat, Qanun Dustury, Qanun Dauly, Qanun Murafaat, dan lain sebagainya.

 Selain itu, di Fakultas ini juga dikaji beberapa disiplin ilmu yang erat hubungannya dengan dua disiplin ilmu tadi, diantaranya adalah: Iqtishod Islami (Ekonomi Islam), Al-Uqud Al-Musammah, Al-Maliyyah Al-Ammah yang mengupas tentang ekonomi dan keuangan menurut kaca mata islam dan ushul bahts yang membahas tentang tata cara menulis karya tulis ilmiah, sebagai bekal para mahasiswanya untuk dapat menulis dengan baik serta berbobot.


Dan juga Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Al-Ahgaff bukan hanya sebatas mengkaji dan memahami seluk beluk agama dan ilmu-ilmu yang terkait dengan syariah dan hukum. Akan tetapilebih dari itu, sebab factor amaliyyah di fakultas ini juga ditekankan dan diperhatikan oleh para pemngkunya. Melihat kondisi kota Tarim, dimana fakultas ini berada yang masih murni dan belum terpolusi oleh kebudayaan non islam. Sehingga yang dirasakan mahasiswa selama ini adalah ketenangan jasmani dan rohani yang benar-benar tak pernah ditemukan di universitas – universitas lain.


Kemudian seiring dengan perkembangannya. Fakultas Syariah dan Hukum terbagi menjadi dua takhasus(jurusan) yaitu, takhasus syariah dan takhasus syariah wal qanun (syariah dan hukum).
Adapun silabus kuliah yang dikaji dari awal semester hingga akhir silahkan anda kunjungi tautan berikut, Silabus Kuliah Universitas Al-Ahgaff Yaman .

Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum

Diantara para dosen pengajar dan masyayikh yang masih aktif mencurahkan darma baktinya di Fakultas Syari’ah wal Qanun Universitas Al-Ahgaff adalah:
DR. Muhammad Abdul Qadier Al-Aydrus
Syekh Muhammad Bin Bashri As-Segaf.
DR. Amjad Rosyid Al-Maqdisi
Syekh Muhammad Ali Ba'udhan.
Syekh Muhammad Ali Al-Khotib.
DR. Abdullah Bin Syihab.
DR. Alawy Bin Syihab.
DR. Izzuddin As Sudani.
Sayyid Abdullah Abu Bakar Al Aydrus.
Sayyid Abdullah Awad Bin Smith.
Sayyid DR. Abdurrahman As Segaf, MA
Sayyid Abdullah Abdul Qadir Al-Aydrus, MA
Sayyid Alwi Abdul Qadir Al-Aydrus, MA
Sayyid Abdurrahman Thoha Al-Habsy, MA
Sayyid Musthafa Bin Smith, MA
Sayyid Segaff Al Idrus MA.
Sayyid Ahmad Bin Salim Bin Aqil
Muhammad Ismail As-Syuri, MA
Sayyid DR. Hasan Ahmad bin Smith

Dan masih banyak lagi cendikiawan Islam lainnya yang yang berasal dari penjuru jazirah Arab seperti Irak, Syiria, Sudan, Yordania, maupun luar Arab seperti Kanada, Cina, India dan Indonesia.


Lihat Universitas AHGAFF di peta yang lebih besar

 Sarana dan Prasarana
  • Asrama bagi para santri, setiap kamar dilengkapi dengan AC, kipas angin, lemari, dan ranjang.
  • Lapangan Voly
  • Lapangan sepak bola
  • Maktabah (perpustakaan)
  • Gedung kuliah berAC
  • Auditorium
  • Musholla
  • Kantin
Fakultas Putri Jurusan Dirasah Islamiah
Fakultas putri adalah salah satu fakultas di dalam Universitas Al-Ahgaff jurusan ilmu-ilmu keislaman (Dirasah Islamiah). Para mahasiswi dibekali berbagai ilmu keislaman yang sesuai dengan kebutuhan zaman sehingga dapat menjadi wanita yang berwawasan keislaman yang kuat.

Mata Kuliah Fakultas Putri Jurusan Dirasah Islamiah :

1
Fiqh
13
Sirah
2
Nahwu          
14
Balaghah
3
Tilawah dan Tajwid
15
Ayatul Ahkam
4
Tadbir Manzily
16
Ahaditsul Ahkam
5
Madkhal ila ‘ilmi nafs
17
Ushul fiqh
6
Ulumul Qur’an
18
Manahij Bahst
7
Tareh Tasyri’
19
Turuqu tadris
8
Usul Tarbiah
20
Suluk
9
Tafsir  
21
Komputer
10
Dirasah khasah
22
Skripsi
11
Manahij wa Asalib
23
Praktek lapangan      
12
Musthalahal Hadist


  Syarat-Syarat Kuliah Di Universitas Al-ahgaff
1. Lulus SMU atau sederajat dengan nilai rata-rata 7,5 (Ijazah) atau 7,0 (NEM)
2. Melunasi keuangan pendaftaran dan biaya kuliah sesuai yang telah ditentukan pihak Universitas
3. Menitipkan uang tiket untuk pulang
4. Mengisi formulir yang tersedia
5. Menandatangani beberapa surat perjanjian
6. Menyerahkan fotocofi ijazah yang telah dilegalisir dan diterjemahkan kedalam bahasa Arab serta mendapatkan rekomendasi dari kedutaan Yaman
7. Menyerahkan surat tanda pengenal (paspor atau kartu pengenal)
8. Menyerahkan pas foto berwarna yang terbaru berukuran 4x6 sebanyak 15 lembar
9. Surat keterangan Dokter bebas dari penyakit (hepatitis B dan aids)
10. Lulus ujian dalam materi bahasa Arab dan fiqh
11. bersedia masuk persiapan minimal 1 (satu) tahun
12. Menyerahkan surat keterangan dari guru pembimbing (Sekolah)
13. Surat izin dari orang tua

Untuk mengenal lebih jauh tentang Universitas Al-Ahgaff, bisa hubungi:
Al-Habib Hasan Al-Jufri :Komplek pondok pesantren Jagasatru Cirebon 45115
Telp/Fax : (0062)(231)237620
HP : (0062)8122212000
E-mail : hasanaljufri@yahoo.com, hasanaljufri@maktoob.com



Atau anda bisa kunjungi website Universitas Al-ahgaff :
 Source : PPI Hadhramaut

Categories: , , ,

Tuesday, 14 January 2014

Antara Kasur Dan Makanan, My 1st Winter In Tareem

Antara Kasur Dan Makanan, My 1st Winter In Tareem Holla mas bro, mbak sis. Mekum!!! Apa kabar semua? Moga baik sajalah, heuheu.

 Udah lama ngga nulis celoteh yang sebenarnya ngga penting-penting amat juga sih untuk ditulis, apalagi dibaca. Tapi, saya tahu banyak orang-orang yang jauh di sana merindukan tulisan-tulisan saya, baik cerita atau pun oceh-ocehan saya, haha #NoSirik #NoComment.Oke, seperti yang kalian udah baca judul di atas, "Antara Kasur Dan Makanan, My 1st Winter In Tareem," udah kebayang dong apa yang akan saya ceritakan di postingan kali ini? Pastinya ngga bakalan jauh pembasan kali ini dari musim dingin-ya iya lah, kan sekarang lagi musim dingin-, dan kasur dan makanan, nah lho hubungannya apa? Yuk baca postingan ini sampai habis, yang teliti biar ngga ada yang kelewat dan jangan lupa pake perasaan, heuheu.

 Sebelumnya, buat kalian yang belum kenal Kota Tarim berikut sekilas tentang beliau, heuheu emang manusia apa? Oke, Tarim adalah kota yang sangat bersejarah berada di selatan Republik Yaman, Provinsi Hadhramaut. Udah, gitu aja ya perkenalannya!? Untuk informasi lebih detailnya tentang Kota Tarim, kalian bisa lihat di Wikipedia-klik disini!-, Kompasiana-klik disini!-, atau Pondok Habib Web, heuheu #CumaSekilas.

 Singkat kata singkat cerita, tidak terasa sudah beranjak tiga tahun saya berada di Yaman, dan ini tahun pertama di Tarim, dua tahun sebelumnya saya jalani di Mukalla. Perbedaan cuaca antara Mukalla dan Tarim yang berbeda, karena Mukalla berada di pesisir pantai Laut Arab, sedang Tarim berada di lembah Hadhramaut, membuat saya merasa kini benar-benar di Timur Tengah. Soalnya di Mukalla cuacanya tidak begitu jauh dengan cuaca di Indonesia, bedanya hanya di hujan saja, heuheu.

 Awalnya, tahu bahwa Yaman memiliki musim dingin saya sangat senang sekali. Karena, kebayang pastinya asik berasa di Eropa, dingin, ada salju dan segala pernak-pernik musim dingin kayak di film-film. Eh ternyata, boro-boro ada salju melihat sesuatu yang membeku pun tak ada, yang ada cuma debu yang berterbangan sama suasananya seperti di musim panas. Tapi, dari musim dingin ini saya ada temukan fakta-fakta baru yang pastinya kalian sudah tahu. Soalnya You tahu sendirilah kalau saya ini paling lambat konek masalah ilmu, tapi kalau konak mungkin paling cepet, haha #OtakMesumPastiNyambung.

 Dari fakta-fakta itu misalnya, pada musim dingin matahari itu pasti terbitnya telat dan terbenam lebih awal. Intensitas produksi upil meningkat tajam, dan karena berbanding lurus dengan bahan bakunya, darah pun jadi upil. Musim dingin adalah waktu di mana cowok-cowok macho seperti saya berubah menjadi feminim, karena tiap pagi, sore dan malam sebelum tidur pasti pakai pelembab, aduh rempong deh bo'. Dan di mana saya merasa jijik ngelihat air, geli, sumpah jangan sampai nyentuh pas dingin-dinginnya.

 Dan untuk kali ini saya nobatkan kasur dan makanan sebagai juara setan terkeji di musim dingin, di antara merekalah kenikmatan surgawi dingin musim, haha. Kasur, pastinya tahukan? Nikmat sekali saat dingin menerjang kita berada di kehangatan di atas kasur di balik selimut, asli nikmat banget. Porsi memejamkan mata pun meningkat lebih dari 15%, haha.

 Dan untuk makanan, mungkin fakta ini yang belum terlintas di benak buat kalian yang belum merasakan musim dingin. Dulu saya pun beranggapan bahwa pasti enak sekali jika kita berpuasa di musim dingin, tidak terlalu kehausan pastinya dibandingkan puasa di musim panas. Memang sih kita tidak mudah haus, dan banyak mengonsumsi air seperti di musim panas. Tapi kenyataannya, saat musim dingin perutlah yang semakin intensif mencerna makanan dan mengeluarkannya dalam bentuk ta** (sensor bro, haha). Kita akan semakin konsumtif mengonsumsi apa saja yang bisa dimakan, kebalikan musim panas yang mudah haus, di musim dingin kita sangat mudah sekali lapar. Alhasil pengeluaran biaya untuk makan pun meningkat. Tidak sampai di situ saja, setelah kekenyangan mengonsumsi makanan godaan yang paling mustahil dapat ditolak adalah datangnya angin surgawi yang menuntun lembut menuju kasur, heuheu.

 Sekarang saya sedang semesteran, kasur dan makanan adalah godaan terberat saat seperti ini. saat saya dituntut lebih banyak belajar untuk menghadapi ujian, tapi tubuh ini tak mampu menolak godaan dua setan tersebut. Finally, minta do'anya ajalah dari teman-teman semua , supaya ujian saya lancar dan tidak sampai kena remidial apalagi sampai mengulang. Amin! Oke, makasih udah mau baca sampai habis heuheu.

Categories: , , ,

Monday, 13 January 2014

Siapa Bilang Jadi Penulis Itu Sulit???

Siapa Bilang Jadi Penulis Itu Sulit???
Menulis adalah kegiatan menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Biasa kita lakukan pada carik kertas dengan menggunakan alat-alat seperti ballpoint, pena, atau pensil. Namun seiring berkembangnya zaman, manusia kini mampu menciptakan media-media lain untuk melakukan kegiatan tulis menulis, seperti handphone, laptop, dan computer.

Menulis adalah salah satu kemampuan berbahasa, menyampaikan ide atau gagasan pada orang lain lewat aksara, tulisan. Lewat susunan huruf yang kemudian membentuk kata, dan terus terangkai menjadi kalimat bermakna. Menulis adalah cara berbicara, berpendapat, bercerita, menggambarkan suasana hati yang gundah gulana, yang bahagia lewat tulisan, melalui goresan pena.

Sulitkah menjadi penulis? Tentunya sangat sulit jika yang ada di benak kita menjadi seorang penulis sekelas Imam Nawawi, yang karya-karyanya yang berabad silam hingga kini masih dibaca dan dikaji. Sekelas Bung Hatta, Tan Malaka, Buya Hamka, Andrea Hirata, Gol A Gong, Raditya Dika dan masih banyak lagi penulis-penulis ulung asal Negara kita tercinta Indonesia.

Namun jika kita berpikir secara sederhana, menjadi penulis tidaklah sesulit yang kita bayangkan sebelumnya. Jika yang ada di benak kita hanya sekedar menjadi penulis, tak peduli menjadi kelas teri atau pun kelas kakap, tenar dan terkenal itu adalah urusan belakang yang penting menulis dan jadi penulis.

Masihkah berpikiran bahwa menjadi penulis itu sulit? Ya, sulit. Karena saya tidak ingin hanya menjadi penulis kelas teri, penulis biasa, penulis asal-asalan. Saya ingin tulisan saya dibaca dan dikaji oleh semua orang, memberikan pengaruh pada orang lain, tenar dan terkenal. Sekalipun saya tidak dapat disejajarkan dengan Imam Nawawi, atau Bung Hatta, Tan Malaka, Buya Hamka, Andrea Hirata, Gol A Gong, Raditya Dika, setidaknya saya masih diperhitungkan sebagai penulis, yang benar-benar penulis.

Baiklah jika benar yang kita inginkan adalah menjadi penulis, yang bukan penulis asal-asalan. Maka, janganlah pernah berpikir bahwa menjadi penulis itu sulit. Berpikirlah positif bahwa segalanya itu mudah, sekalipun sering kita harus naikkan frekuensi usaha untuk melakukannya. Pegang erat ilmu ala “bisa karena biasa”, meski sulit akan terasa mudah karena terbiasa. Menulislah, menjadi penulis bukanlah sulit!

Pada hakikatnya, semua orang terlahir 0(nol, kosong, zero) belum berbilang + (plus) apalagi – (minus). Manusia terlahir sama tidak bisa apa-apa, tidak ada satupun yang terlahir langsung mampu berlari. Namun bermula dari terlentang, kemudian belajar untuk bisa tengkurap, selanjutnya merangkak, dan terus bisa berdiri, berjalan, hingga akhirnya bisa berlari. Manusia terlahir sama tidak berkeahlian. Namun karena hidup dan kemauan seseorang tersebut, jadilah ia orang yang memiliki, orang yang berkeahlian. Imam Nawawi tidak lahir langsung mampu menulis berjilid-jilid buku, memiliki pendapat-pendapat yang brilian yang kemudian dituliskan dalam bentuk buku. Semua hal dari kemampuan manusia memiliki tahapan-tahapannya sendiri. Menulislah, menjadi penulis bukanlah sulit!

Siapa bilang menjadi penulis itu sulit? Gampang kok! Yang penting punya kemauan, usaha dan jangan lupa doa. Berawal dari nol kita bisa menjadi penulis yang diperhitungkan gagasan-gagasannya, memberikan pengaruh pada khalayak dengan karya-karya. Optimislah dalam segala hal, bahwa kita bisa melakukan semuanya meskipun sulit. I can do this, I can to be what I want, patri dalam hati bahwa saya bisa! Saya bisa menjadi penulis! Merdeka!!!

Categories: ,

Tuesday, 15 October 2013

3rd Ied Adha at Hadramawt Yemen, Menyedihkan Bro!!!

Ehm, ehm. Check sound, one two three check check. Heuheu.

Bismillah. Walhamdulillah.

Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar, laa ilaaha illallahu allahu
akbar, allahu akbar wa lillahil chamd. Riuh takbir hanya sesekali
terdengar dari pengeras suara masjid-masjid. Tidak ada festival
takbir/takbir keliling, tidak ada bunyi bedug, kentongan, pesta
kembang api petasan, mercon dan sebagainya. Ya inilah suasana setiap
malam hari raya, baik idul fitri maupun idul adha di Yaman, jauh
berbeda dengan tradisi di Indonesia yang semarak. Sungguh kampung
halaman adalah surga kedua yang ada di bumi.

Ini adalah hari raya idul adha ketiga saya di negara ini, bumi Ratu
Balqis, sejak saya meninggalkan negeri tercinta Indonesia tahun 2011
lalu. Melewati lebaran tanpa orang tua dan saudara yang harusnya sudah
menjadi biasa, tetap saja menjadi momen yang sangat memilukan.
Siapapun orangnya, kebersamaan dengan keluarga itu adalah hal nomor
satu. Arrrgghh, so sad bro! *Kutulis ini ngga sambil nangis loh.
Sumpah!! Heuheu*

Lebaran adalah momen yang sangat menyedihkan saat kita tidak bisa
menjalaninya bersama orang-orang tercinta, orangtua dan keluarga.
Makanya, mudik atau pulang kampung adalah budaya yang sangat
menyenangkan dan dinantikan bagi orang-orang di perantauan. Mungkin
hanya lebaran keluarga yang terpisah-pisah karena merantau bisa
berkumpul kembali.

Tapi sayang, itu tidak mungkin terjadi pada saya. Tidak mungkin bisa
mudik setiap kali lebaran, karena biaya yang sangat mahal. Tiket
pesawat pulang-pergi di hari-hari biasa sekitar 500 USD s/d 700 USD,
kalau di hari liburan bisa mencapai 1000 USD kalikan saja Rp
11.500,-/USD kurs saat ini. Berjuta rupiah harus dikuras dari kocek
orang tua jika itu terjadi. Ah Indonesia, jarak ini sangat menyiksaku!

Oke deh, banyak hal yang kukorbankan untuk perantauan ini.
Mudah-mudahan tidak menjadi sia-sia karena banyak keteledoranku, amin.
Minal 'Aidin Wal Faaizin, saya ucapkan "Selamat Hari Raya Idul Adha
1434 H" untuk teman-teman yang membaca postingan ini.


Tarim, 15 Oktober 2013 04:27 KSA

Categories:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

Copyright © IBNARAZY | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑